Showing posts with label Ajakan. Show all posts
Showing posts with label Ajakan. Show all posts

Saturday, 1 December 2012

Letak Akal dalam Kemarahan

Kita mungkin pernah marah. Tidak saatnya kita menyesalinya.

Kita perlu merefleksikan diri. Bahwa pernah marah, kita perlu merefleksikannya. Kapan kita marah? kepada siapa? Atas dasar apa kita marah?. Kitalah yang bisa menjawabnya sendiri. Karena kitalah yang marah. Andaikan saat marah adalah sebuah akhir, berarti marah ada sebabnya. Sebab adanya akhir mengharuskan adanya awal. Itu berarti saat marah dan sebelumnya akan terhubung. Banyak ditemui orang sedang marah dengan adanya sebab sebelumnya. Keadaan sebelumnya itulah yang menentukan jawaban apa atas pertanyaan-pertanyaan tadi. Marahnya seseorang adalah salah satu kelanjutan atas terbentuknya masalah di dalam benaknya. Namun bukan berarti setiap timbul masalah di dalam benak, seseorang akan marah.

Seseorang yang marah bukan berarti tidak menggunakan akalnya. Lebih tepatnya, akalnya sudah bekerja saat dia belum marah. Karena terbentuknya masalah di dalam benak seseorang, dilakukan dengan proses berpikir. Ia menggunakan akalnya dalam berpikir. Jadi, akal berada pada dirinya saat dia sebelum marah. Bagaimana keberadaan akal saat marah? Seseorang yang sedang marah susah menggunakan akal sehatnya. Itu berarti seseorang yang sedang marah cenderung terkuasai. Kita akan melihat bagaimana kata-kata yang keluar dari seseorang yang sedang marah, kasar. Kita pun akan melihat bagaimana tindakan-tindakan yang dilakukannya, tak terkendali. Lantas, siapa yang menguasainya? Sebenarnya tidak ada yang menguasainya. Namun, akal yang dimilikinya tidak berkuasa atas dirinya. Ini berarti tidak ada kehadiran akal saat dirinya sedang marah. Setelah marah, biasanya seseorang tersebut menyesal. Terkadang, kita jumpai, ada kekacauan-kekacauan setelah kemarahan dilampiaskan. Benda-benda yang rusak, kata-kata kasar yang keluar, atau perkataan-perkataan lain yang keluar bukan atas kendalinya.

Apakah marah itu buruk? marah tidak bisa dicap sebagai keburukan atau kebaikan. Sebab, marah itu sendiri adalah manifestasi timbulnya masalah di dalam benak. Yang tepat untuk dinilai ialah bagaimana masalah di dalam benaknya itu terbentuk bukan marahnya itu sendiri. Persepsi apa yang memantik timbulnya masalah di dalam benak? fakta apa yang melandasi persepsi tadi memantik. Muslim yang marah dengan dibakarnya alQur'an bukan berarti buruk. Bahkan itu bagian dari kebaikan karena ia mengikuti tuntunan Syara'. Itulah kemarahan yang baik. Karena marahnya sesuai dengan Syara'. Baiknya tindakan tersebut bukan karena ia marah, melainkan persepsi dan fakta yang membangun masalah sehingga memicunya marah. Hal yang sebaliknya juga bisa diterapkan, yaitu bisa diterapkan oleh status buruk. Bahwa marah bukan berarti buruk. Sekali lagi, penilaian baik dan buruk bukan pada marah atau tidaknya seseorang. Melainkan, kepada apa kemarahan tertuju dan atas dasar apa ia marah.

Jika ada kemarahan yang baik, Lantas mengapa ada penyesalan setelah datang kemarahan? Harus diingat kembali bahwa status baik dan buruk tidak ditimpakan pada saat kemarahan datang. Akan tetapi, bagaimana sebab kemarahan itu datang. Adapun saat marah sebagaimana nasihat beliau, memang kemarahan itulah yang akan menguasai seseorang. Sebab, pada saat itu keberadaan akalnya tidak difungsikan. Akalnya tertutup dengan kemarahannya. Yang perlu diwaspadai ialah, tindakan apa saja yang dilakukan saat orang marah. Penyesalan yang mendalam, akan terjadi manakala tindakannya saat marah tidak dikendalikannya. Lho, bukannya memang kehadiran akal tidak ada saat sedang marah, bagaimana tindakan itu dikendalikan jika akal tidak hadir? Jangan, anggap kemarahan itu tidak bisa dipartisi. Pada rentang waktu tertentu kita memang marah, namun pada rentang waktu yang lain kita juga meredam amarah kita. Ada juga rentang waktu sebelum marah dimana kita tidak sedang marah. Di rentang waktu itulah akal kita telah dan akan hadir kembali. Sehingga, ada baiknya kemarahan itu dikendalikan saat adanya akal pada rentang-rentang waktu kita tidak sedang marah. Tindakan kita saat marah dapat dikendalikan oleh akal kita yang berada sebelum kita marah. Hal itu sangat mungkin terjadi, sebab tindakan kita juga bisa dikendalikan akal. Artinya akal bekerja sebelum tindakan dilakukan. Meskipun tindakan tersebut saat kita marah, saat akal kita tidak berada pada diri kita.


Tommy Aji Nugroho
Bandung, 1 Desember 2012 pukul 17:01 WIB diedit tanggal 2 Desember 2012 pukul 14:07 WIB

Sunday, 25 November 2012

Mengapa Berpikiran Terbuka?

Pada artikel sebelumnya, Tuliskanlah dasar argumen untuk menulis telah dipaparkan. Kita yang kecil menempati alam semesta yang terbentang luas. Implikasinya, jangkauan inderawi kita terbatas pada apa-apa yang pernah kita temui. Apa yang tidak pernah kita temui, berarti bukan jangkauan inderawi kita. Hasilnya ialah di antara kita akan berjarak. Jarak artinya adanya dua titik yang terpisah yang dihubungkan dengan satu garis imajiner, garis lurus. Aku di titik ini menemui bagian alam semesta yang seperti ini dan engkau di sana menemukan bagian alam semesta yang seperti itu. Kita berjarak.

Selain itu, kadar inderawi untuk meresapi, kadar akal untuk memikirkan, sensitifitas hati untuk merasa, dan kadar jiwa untuk menghayati alam semesta kita juga berbeda. Walaupun fakta yang kita indera sama, informasi sebelumnya juga sama, perangsang sensitifitas hati yang sama, dan dinamika alam semesta yang kita hayati sama, tidak dengan hasil. Hasil yang berupa penyerapan fakta, pemikiran, sensitifitas hati merasa, dan dinamika jiwa menghayati tetap akan berbeda dengan kadar masing-masing yang berbeda di antara kita. Kita memang berbeda.

Menuturkan, menyampaikan, dan menuliskan merupakan cara orang menanggapi kehadirannya yang berjarak dan kenyataannya yang berbeda. Antara satu orang dengan orang yang lainnya berjarak dan berbeda. Namun, dengan menulislah, apa yang menjadi makna di dalamnya dapat diteruskan ke berbagai penjuru alam semesta. Juga melintasi sepanjang panah waktu bergerak. Menulis mempertahankan keawetan makna yang dikandung di dalam tulisan. Menulis juga mendekatkan makna dengan keabadian. Meskipun hanya berupaya untuk dekat kepadanya, bukan menciptakan keabadian itu sendiri. Kita akan berhadapan dengan keterbatasan diri untuk menciptakan keabadian. Apa yang kita kuasai sebatas terhubungnya kita dengan alam semesta. Juga waktu yang bersinggungan dengan umur kita. Selebihnya kita benar-benar makhluk lemah yang tidak berdaya apa-apa atas apa yang terjadi. Menulis ialah mendekatkan makna yang dikandung dalam tulisan pada keabadian.

Ada banyak hal yang menguraikan mengapa kita lemah. Kita yang berjarak dan berbeda adalah manifetasi kelemahan kita. Kita berjarak artinya, jangkauan inderawi kita berbeda. Apa yang aku jangkau dan apa yang engkau jangkau tidaklah sama. Karena, kita berjarak berarti apa yang kita temukan akan berbeda. Kita berbeda artinya, kadar-kadar yang ada pada organ-organ hidup kita sehingga kita meresapi, memikirkan, merasakan, dan menghayati alam semesta ini juga berbeda. Berbeda berarti, kadar-kadar yang kita punyai dibandingkan kadar-kadar yang dipunyai orang lain akan menghasilkan tingkatan jika dijejerkan di kedudukan yang sama. 7, 8 berbeda dengan 9. 7,8 dan 9 jika dijejerkan akan bertingkat berupa 7,8,9. Kita lemah.

Manusia dengan kejernihan dan kemurnian akalnya cenderung pada kebenaran. Apa yang benar lebih disukainya daripada yang salah. Manusia selalu mencari kebenaran. Namun, manusia seutuhnya berbeda dengan kejernihan dan kemurnian akalnya. Manusia seutuhnya dilihat dengan karakternya. Karakter manusia satu dengan yang lainnya tentu akan berbeda. Namun kecenderungan setiap manusia dari kejernihan dan kemurnian akalnya akan tetap sama. Mereka cenderung pada kebenaran. Karakter manusia berpotensi menodai kejernihan dan kemurnian akalnya. Sebab, karakter manusia dibangun dari persepsi-persepsinya yang tentang sesuatu. Persepsi dibangun dari pemikiran-pemikiran. Sedangkan pemikiran bergantung pada informasi sebelumnya. Mengenai hal itu aku menuliskannya di sini Merasionalisasi Perasaan. Adapun, informasi sebelumnya yang diterima satu orang dan yang lainnya tidak tentu sama. Sehingga, karakter berpotensi menodai kemurnian dan kejernihan akalya. Tidak jarang akan kita temui, dalam diskusi-diskusi akal manusia yang sudah tersandra oleh karakternya akan susah mengakui kebenaran baru. Ego dan tendensinya mendominasi jalannya diskusi.

Jika mau kembali pada kejernihan dan kemurnian akal, kita sepakat pentingnya kebenaran daripada bertahannya ego dan tendensi diri. Bahkan, dengan cara itulah karakter kita akan teruji. Kalau kita bilang sesuatu itu benar namun belum teruji, itu lemah. Kekuatan akan dibangun dengan kesediaan kita menjalami ujian-ujian. Pemikiran, persepsi, dan karakter kita perlu diuji. Mereka mempunyai ujiannya masing-masing. Pengujian pemikiran berupa dibandingkannya pemikiran itu dengan pemikiran lain. Atau bisa juga dengan mempertanyakan kebenaran pemikiran itu sendiri. Caranya dengan menghadirkan objek-objek lain yang terhimpun dalam objek yang dihukumi. Maksudnya? masih ingat kan pelajaran bahasa Indonesia SMA tentang hiponim dan hipernim? Ya, seperti itu, objek yang kita pikirkan juga ada yang bersifat khusus dan ada pula yang bersifat umum.

Namun, dengan itu bukan berarti kita tidak membutuhkan karakter. Karakter tetap kita butuhkan kehadirannnya untuk menangkap dan menjelaskan bagaimana suatu objek dan kejadian tersebut akan saling terkait. Yang semestinya dihindari ialah menodai kejernihan dan kemurnian akal manusia dengan karakternya sehingga pintu penerimaan terhadap kebenaran akan tertutup. Jadi, kita perlu membuka diri yang diawali dari pikiran kita. Bahwa kita harus berpikiran terbuka.

Berpikiran terbuka bukanlah sesuatu yang buruk. Memang, dengan berpikiran terbuka akan ada kemungkinan kita menghapus pemikiran lama dan mengadopsi pemikiran baru kita. Mungkin juga kita akan menghapus pemikiran baru kita tadi dengan pemikiran yang lebih baru lagi. Namun, yang perlu diingat bahwa baik dan buruk pemikiran bukan terletak pada seberapa kuat dipertahankannya pemikiran oleh seseorang. Sebab, seseorang bisa saja mempertahankan pemikirannya dengan egonya bukan karena pemikiran tersebut kuat dan benar. Baik dan buruk pemikiran seseorang bergantung pada seberapa kuat dan benarnya pemikiran tersebut. Sehingga, intervensi subjektif seseorang atas baik dan buruknya pemikiran dapat dilepaskan. Benar artinya, pemikiran tersebut sesuai dengan fakta. Kuat berarti, mampu mempertahankan pemikiran tersebut atas fakta.

Jadi, berpikiran terbuka tidak mengantarkan pada keburukan. Yang mengantarkan pada keburukan ialah menolak kebenaran. Juga mempertahankan pemikiran yang sudah terbukti kesalahannya. Jadi, mengapa berpikiran terbuka? Sebab, dengan itulah kebenaran akan didapat dan pemikiran yang diadopsi akan semakin kuat setelah melewati masa pengujian. Dengan berpikiran terbuka kita mengakui diri ini lemah dan cahaya kebenaran bisa datang dari mana saja. Karena kita memang berjarak dan berbeda.


Tommy Aji Nugroho
Bandung, 26 November 2012, pukul 11:30

Tuliskanlah

Aku ada. Engkau ada. Mereka ada. Alam semesta ada. Waktu pun ada. Aku, engkau, mereka, alam semesta, dan waktu pernah ada. Aku, kau, dan mereka terpisah, meski pada waktu yang sama kita berada di alam semesta yang sama. Terkadang, aku dan kau terpisah dengan mereka meski pada waktu yang sama kita berada di alam semesta yang. Pun demikian, ada kalanya aku, kau, dan mereka berkumpul dalam alam semesta dan waktu yang sama.

Suatu saat aku, engkau, dan mereka akan meninggalkan alam semesta. Hubungan kita dengan waktu akan terputus. Terputus dan tidak akan pernah bisa disambung lagi. Terputus dan tidak akan pernah diputar balik, kembali. Arah panah waktu selalu maju. Aku, kau, dan mereka bersama waktu bergerak maju dan pada akhirnya kita akan berpisah. Aku akan berpisah denganmu. Aku akan berpisah dengan mereka. Aku akan berpisah dengan waktu. Begitu pun engkau. Sadarkanlah aku. Sadarlah engkau

Aku ada tanpa kehendakmu. Engkau ada tanpa kehendakku. Alam semesta, waktu, dan mereka ada tanpa kehadiran kehendakku dan kehendakmu. Aku tidak berkuasa atas adanya engkau. Engkau tidak berkuasa atas adanya aku. Aku dan engkau tidak berkuasa atas adanya mereka dan alam semesta. Namun, sekarang, aku, engkau, dan mereka tidak sedang berpisah dengan waktu. Tidak berpisah juga kita dengan alam semesta.

Syukuri, hayati, sadari bahwa aku, engkau, dan mereka ada di sini sekarang. Di sini di alam semesta yang terbentang luas. Sekarang, hanya sesaat yang kita punyai. Alam semesta yang luas, sangat jauh bila dibandingkan dengan aku, engkau, dan mereka yang kecil. Karena itulah kita berjarak. Terkadang, jarak di antara kita mendekat dan menjauh. Aku di sini, kamu di sana, mereka entah di mana. Jangkauan inderawiku apa-apa yang ada di sini. Jangkauan inderawimu apa-apa yang di sana. Jangkauan inderawi mereka apa-apa yang entah di mana. Aku menemukan, mengindera, berpikir, merasa, mengelaborasi apa-apa yang belum tentu engkau dan mereka dapatkan. Engkau menemukan, mengindera, berpikir, merasa, mengelaborasi apa-apa yang belum tentu aku dan mereka dapatkan. Pun demikian dengan mereka, belum tentu kita bisa mendapatkannya.

Aku, engkau, dan mereka berbeda. Kadar khasiat inderawi kita berbeda, kadar berpikir oleh akal kita berbeda, sensitifitas hati kita untuk merasa berbeda. Kita di sini dan sekarang berbeda dan berjarak. Fisika mengatakan perbedaan itu energi. Atom yang tereksitasi dari level tertinggi menuju yang terendah akan melepas energi. Sebaliknya akan membutuhkan energi. Jarak juga energi. Buah apel yang jatuh dari tangkainya akan melepaskan energi. Buah apel yang kita ambil dari tanah ke keranjang yang kita jinjing membutuhkan energi. Perbedaan dan jarak adalah energi. Demikian juga dengan hidup. Hidupnya manusia memuat berbagai perbedaan dan jarak. Aku seperti ini, engkau begitu, mereka seperti itu adanya. Aku, engkau, dan mereka ada di sini dan kadang di sana. Biarlah perbedaan ini ada. Biarlah kita berjarak. Karena dengan itu kita akan saling bergerak. Setiap gerakan akan melahirkan kejadian. Einstein mengajarkan pada kita melalui ucapannya, "Nothing happens until something move".

Namun, aku tidak tahu apa yang kau mau, apa yang kau rasa, apa yang kau pikirkan, dan apa yang kau dapatkan dari kebersamaanmu dengan waktu dan alam semesta. Engkau dan mereka pun tidak tahu apa yang aku mau, aku rasa, aku pikirkan, dan apa yang kudapakan dari kebersamaanku dengan waktu dan alam semesta. Kebersamaan bersama waktu dan alam semesta akan melahirkan abstraksi. Mungkin engkau akan melukiskan indahnya alam dengan Fisika. Mungkin engkau akan menemukan berharganya aksioma-aksioma Matematika atau menemukan sumber cahaya pencerah kehidupan. Perncerahan yang membimbing manusia dari ketidaksadaran makna hidup. Pencerahan yang akan menolong manusia setelah kematian atas hidupnya. Maka, sampaikanlah, tuturkanlah, tuliskanlah apa yang kau dapat. Aku pun akan menuliskan. Aku menuliskan bukan untuk mengguruimu dan mereka. Namun, aku ingin mendapatkan umpan balik darimu dan mereka setelah kuberbagi. Umpan balik yang akan membawaku pada pengujian kebenaran tentang apa yang aku dapatkan. Karena kita berbeda dan berjarak. Mari kita hasilkan bergerak, karena kita berbeda dan berjarak. Mari kita bergerak untuk mendapatkan kejadian. Tuliskanlah olehmu untukku dan mereka. Aku pun ingin menyampaikan tulisan ini untukmu dan mereka. Karena dengan menulislah, apa yang kita dapatkan dapat kita bagikan. Kita akan berpisah dengan mereka. Kita dan mereka juga akan berpisah dengan waktu dan alam semesta. Namun tidak dengan tulisan kita. Tulisan kita akan mampu menembus batas yang kita mempunyai batasan untuk menembusnya. Tulisan kita akan menembus batas ruang dan waktu. Maka, tuliskanlah olehmu, dan olehku untuk kita dan mereka...


Tommy Aji Nugroho
Bandung, 25 November 2012 pukul 17:25