Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts

Thursday, 29 November 2012

Definisi Definisi

"Berikan kail bukan ikan"

Orang Indonesia tidak akan asing dengan peribahasa ini. Peribahasa yang diberikan kepada siswa SD, namun filosofinya mampu menjangkau semua kalangan. Agaknya, peribahasa inilah yang akan mengkomunikasikan ide artikel sederhana ini.

Kebersamaan dengan HATI-ITB selama ini membawaku pada dunia baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku menemukan hal-hal baru di sini. Sebagai unit kajian Islam ideologis, HATI menawarkan cita rasa baru memandang suatu masalah. Sistematis, terstruktur, berkesinambungan, mendasar, dan menyeluruh agaknya itulah sifat-sifat yang senantiasa diperjuangkan dalam membangun dan menyampaikan ide yang dibawanya.

Salah satunya ialah mendasar. Untuk sifat ini, aku diperkenalkan pada definisi sebuah definisi. Ya, bagiku itu mendasar. Definisi-definisi mempunyai definisi. Ia mendefinisikan definisi. Ketika definisi sebuah definisi diajarkan, aku merasa mendapat kail untuk menangkap ikan. Ya, aku dapat memilih, ikan mana yang akan aku pancing dengan kail yang aku dapatkan.

Mengambil pendapat an-Nabhani, HATI mengajariku bahwa definisi itu mencakup keseluruhan objek yang didefinisikan. Hal ini disebut dengan sifat menyeluruh. Maksudnya, definisi suatu objek yang didefinisikan harus meliputi keseluruhan objek. Tidak boleh ada satu pun objek yang tidak tercakup di dalamnya. Ketika kita mendefinisikan apa itu masyarakat, keseluruhan wujud masyarakat tersebut harus tercakup. Tidak boleh ada satu pun wujud masyarakat yang tidak tercakup.

Selain itu, definisi juga harus bersifat menegasikan. Artinya, objek yang memang tidak tercakup di dalam definisi harus dinegasikan bahwa ia tidak masuk dalam definisi. Misalnya untuk Definisi Masyarakat tadi, pertemuan individu-individu di dalam kapal pesiar bukan masyarakat. Maka, definisi masyarakat yang benar tidak memungkinkan objek tersebut tercakup di dalam definisi. Jadi, definisi itu mempunyai dua sifat, menyeluruh yang mencakup keseluruhan objek yang didefinisikan dan menegasikan untuk objek yang memang tidak tercakup di dalam definisi.


Tommy Aji Nugroho
Bandung, 29 November 2012 19:45 WIB

Tuesday, 27 November 2012

Menelusuri Definisi Masalah

Pagi tadi aku menerima sebuah sms, "Aslm, kang, antum punya definisi tentang 'masalah' gak?". Aku kira ada buku baru yang mengupas tentang definisi masalah. Setelah sms kedua dia memperjelas bahwa dia sedang menanyakan apakah definisi masalah aku punyai. Aku meninggalkan jawaban sekenanya sambil jalan keluar kost an, "tunggu satu setengah jam lagi, aku akan coba jawab". Aku beli nasi uduk di warung dekat kost an. Berjalan sambil menikmati kontemplasi topik yang dipertanyakan. hehehe

Lebih dari setahun yang lalu aku juga pernah memikirkan itu. Namun tidak sempat aku tuliskan. Karena memang belum 'lengkap', juga belum terpikirkan untuk menuliskannya. Aku menambahkan tanda kutip pada term lengkap, karena itu relatif. Kontemplasiku relatif belum lengkap waktu itu. Namun bukan berarti, kontemplasiku sekarang sudah lengkap. Lagi-lagi itu hanyalah relatif.

Nampaknya, sms temenku tadi memicuku untuk kembali berkontemplasi. “Terima kasih teman sudah mengingatkan” (ucapku di dalam hati). Aku pikir melanjutkan kontemplasi ini baik untukku. Mengapa? tahukah kamu? Bahwa ternyata, mendefinisikan masalah berguna untuk dakwah kita. Tidak percaya? Mari kita coba buktikan, bismillah.

Menulusuri definisi masalah bukan tanpa masalah. Namun, justru dengan adanya masalah itulah kita sedang dihadapkan langsung pada objek penelusuran. Akan tetapi, kali ini, masalah tersebut tidak akan kujadikan objek penelusuran di sini. Aku akan menggunakan objek lain. Di sini aku menggunakan keumuman orang yang sedang menghadapi masalah. Bagi dirinya itu adalah masalah, sedangkan bagi orang lain itu tidak jadi masalah. Banyak fakta yang kita temukan demikian. Ada seseorang yang menganggap penghasilannya yang tidak naik-naik sebagai masalah. Hingga ia menyimpang dari tuntunan agamanya. Ia akan korupsi untuk meningkatkan penghasilannya. Atau ia akan ke dukun untuk meminta pesugihan. Masalah baginya ialah tidak naiknya penghasilan yang didapat. Sedangkan bagi orang lain, itu tidak menjadi masalah. Ada orang lain selain dirinya yang menganggap bahwa tidak naiknya penghasilan tidak jadi masalah. Kita tarik kesimpulan dari sini bahwa masalah terletak pada seseorang. Masalah terletak pada benak seseorang.

Jadi, sebenarnya, masalah itu berupa informasi. Karena ia tersimpan di dalam benak seseorang. Masalah akan tersimpan di dalam benak seseorang hingga pemicu timbulnya masalah tersebut hilang dalam benaknya. Ya, masalah seseorang mempunyai pemicunya. Mulanya ia akan menyerap fakta, kemudian masalah itu timbul. Hanya itu? Tentunya tidak. Spesifikasi fakta tentu berlaku untuk hal ini. Yang menjadi masalah bukan hanya fakta yang terserap tadi. Melainkan juga bagaimana penyerapan  fakta tadi dihubungkan dengan persepsi atau pemikirannya. Jadi, yang menentukan fakta yang terserapnya itu memicu masalah atau tidak adalah persepsi atau pemikirannya.

Persepsi atau pemikiran dan fakta yang terserap memicu timbulnya masalah di dalam benak seseorang. Namun, keduanya tidak akan memicu kecuali keduanya berbeda. Persepsi atau pemikiran sejatinya mengandung gambaran fakta. Sebab, pemikiran ialah status atas fakta. Sedangkan persepsi itu akumulasi pemikiran-pemikiran teradopsi yang saling membangun. Perbedaan fakta yang dikandung persepsi atau pemikiran dengan fakta yang terserap tadilah yang menjadikan masalah itu ada. Artinya, masalah tidak akan timbul saat gambaran fakta di antara keduanya sama. Orang yang mempunyai persepsi bahwa tampilnya Lady Gaga di atas panggung adalah baik tentunya tidak akan timbul pada benaknya suatu masalah jika Lady Gaga jadi manggung di Indonesia. Karena gambaran fakta yang ada di persepsinya sama dengan fakta yang terserap.

Persepsi atau pemikiran akan diadopsi seseorang jika itu baik dan benar baginya. Sebagaimana dalam artikelku sebelumnya, Mengapa Berpikiran Terbuka? Sejatinya kejernihan dan kemurnian akal dan seseorang condong pada kebenaran dan kebaikan. Meskipun, tidak selamanya proses berpikir seseorang mengantarkan pada kebenaran. Gambaran fakta yang bagi seseorang baik dan benarlah yang mengendalikan perumusan masalah atas fakta yang terserap. Sehingga masalah yang timbul di benak seseorang adalah manifestasi gangguan akan kebaikan dan kebenaran yang diadopsinya selama ini. Sampai di sini kita telah membahas masalah yang ada di dalam benak seseorang. Sedangkan masalah lain terletak pada domain ruang. Masalah tersebut terletak di lapangan.

Namun, tidak timbulnya masalah di dalam benak seseorang bukan berarti tidak ada masalah di lapangan. Karena boleh jadi ia tidak menyerap fakta yang ada di lapangan. Pada artikelku sebelumnya, Kontemplasi Kata Ada aku menyebutkan adanya fakta tidak bergantung indera manusia. Sebab, fungsi indera ialah menemukan fakta bukan menciptakannya. Juga, boleh jadi ia belum mengadopsi persepsi atau pemikiran yang di dalamnya terkandung fakta yang berbeda dengan fakta yang terserap.

"Jadi, adanya masalah di lapangan sangat bergantung dari persepsi manusia tentang baik dan buruk?" Temenku melanjutkan sms, setelah aku sampaikan poin-poin uraian di atas. Aku menjawab sekenanya, "Bukan, masalah di lapangan bergantung pada seberapa persen tidak terimplementasikannya persepsi baik dan benar seseorang di lapangan. Makna imbuhan ter- pada kata implementasi bermakna ketidaksengajaan (ingat kembali pelajaran bahasa Indonesia SMP)." Aku menggunakan makna tidak sengaja karena masalah yang ada di lapangan terkadang ditimbulkan oleh akumulasi perbuatan banyak orang. Sehingga, bisa saja masalah timbul tanpa campur tangan seseorang yang mempunyai persepsi baik dan benar tadi. Karena masalah ditimbulkan oleh banyak orang lain. Tidak terimplementasi berarti tidak ada implementasi karena pengaruh banyak orang lain. Sejatinya, apa yang terbentuk di lapangan akan lebih rumit daripada pembentukan persepsi seseorang. Sebab, itu tidak hanya menyangkut masalah persepsi seseorang melainkan menyangkut persepsi masyarakat, pemegang kekuasaan, dan sistem yang diterapkan. Jadi, masalah di lapangan tidak bergantung pada persepsi baik dan buruk seseorang.

Dari sinilah an-Nabhani menawarkan gagasan berupa dakwah masyarakat. Setelah melewati tahapan pembinaan individu, Beliau mengkodifikasi dakwah Rasulullah sebagai dakwah kepada masyarakat. Oleh karenanya, beliau juga mendefinisikan apa itu masyarakat. Sebab, sekuat-kuatnya persepsi baik (tentang Islam) terbentuk pada individu-individu tidak akan menghasilkan perubahan atas fakta di lapangan. Perubahan yang berupa hilangnya masalah di lapangan dilakukan secara bersama-sama. An-Nabhani memulai itu semua dengan mengubah persepsi seseorang tentang fakta.

Perubahan persepsi akan mendorong seseorang untuk mengajak yang lainnya untuk bersama-sama mengubah fakta yang ada. Perubahan persepsi akan menghasilkan masalah di benaknya. Timbunya masalah tersebut mendorong seseorang untuk mengubah fakta bersama orang lain. Persepsi atau pemikiran yang tidak sampai menimbulkan masalah di benaknya, tidak akan mendorong seseorang untuk mengubah fakta. Sebab, baginya tidak ada perbedaan antara fakta yang terserap dengan yang dikandung persepsi. Fisika juga mengajarkan demikian. Gerak suatu benda terjadi karena adanya perbedaan. Gerak elektron, jatuhnya buah apel, atau tereksitasinya atom terjadi karena adanya perbedaan. Jadi perbedaan fakta yang terkandung didalam persepsi akan mendorong seseorang mengubah fakta yang ada di lapangan.

Inilah filosofi dakwah an-Nabhani. Beliau mendorong seorang kader dakwah untuk menghancurkan sehancur-hancurnya persepsi apapun yang bertentangan dengan Islam. Hingga persepsi tersebut tidak lagi digunakan oleh seorang muslim. Beliau tidak mengambil jalan tengah, dengan cara mengkompromikan apa yang haq (Islam) dengan yang bathil (ghair Islam). Beliau juga tidak mengambil maslahat dengan jalan mencampurkan yang haq dan yang bathil. Sebab, masih digunakannya, persepsi ghair Islam akan memperlambat proses perubahan. Ia akan menghambat seseorang untuk cenderung kepada perubahan. Baru setelah dihancurkan sehancur-hancurnya, Beliau mengajak umat Islam untuk membangun persepsi Islam seutuhnya dan seluruhnya. Oleh teman-teman HATI (sebuah unit kajian Islam ideologis yang bergerak di ITB) cita rasa dakwah an-Nabhani seperti ini dinamakan dengan Dekonstruksi dan Rekonstruksi, yaitu menghancurkan dan membangunnya kembali. Kesimpulannya, menelusuri definisi masalah, akan terkait erat dengan dakwah Islam.


Tommy Aji Nugroho
Bandung, 27 November 21:08

Monday, 19 November 2012

Definisi Masyarakat

Setelah hakekat berpikir, pembahasan menarik lain bagiku adalah definisi masyarakat. Berpikir merupakan domain individu manusia dan masyarakat merupakan wahana bagi individu untuk mengubah dirinya menjadi makhluk sosial. Menariknya, justru dengan perubahan menjadi makhluk sosial itulah manusia mengembangkan pemikirannya. Tanpa masyarakat, seorang manusia tidak akan berkembang. Betapa tidak, manusia tidak akan bisa berpikir tanpa adanya informasi sebelumnya. Sedangkan infomasi sebelumnya tidak dapat dihasilkan oleh akalnya. Ini pernah dibahas dalam artikel Mungkinkah Informasi Sebelumnya Berasal dari Akal Manusia.

Lantas apa itu masyarakat? Sebuah gagasan yang berkembang, masyarakat adalah kumpulan individu. Kita semua tahu, fakta-fakta masyarakat itu apa. Kita dapat menunjukkan mana masyarakat dan mana yang bukan. Seandainya kita menunjuk pada masyarakat RW 1 di sebuah desa yang sedang berkerumun mengantre pembagian sembako misalnya, mereka memang kumpulan individu. Ada lebih dari satu individu yang berkumpul itu disebut sebagai masyarakat. Jadi, masyarakat adalah kumpulan individu? Belum tentu, mari kita uji dahulu.

Misalnya ada Albert dari Jerman, Trotzsky dari Rusia, Eddington dari Inggris, Macheveli dari Italy, Khan dari India, dan Hitori dari Jepang, mereka dipertemukan dalam satu tempat, yaitu kapal pesiar. Selama tiga minggu mereka berkumpul dalam satu kapal pesiar tersebut. Mereka adalah kumpulan individu sebagaimana individu-individu pada masyarakat RW 1 tadi berkumpul. Pertanyaannya, apakah mereka bisa disebut sebagai masyarakat? Tidak, ternyata kita tidak akan menyebut mereka sebagai masyarakat. Jadi, masyarakat bukanlah kumpulan individu.

Terkadang, kita sebagai manusia ada kalanya menjadi makhluk individu dan ada kalanya kita menjadi makhluk sosial. Kita berada di kamar kost sendirian, mengerjakan tugas yang diberikan dosen pembimbing maka saat itulah domain individu kita berfungsi. Namun, ketika tugas yang kita kerjakan adalah sampingan dari aktivitas berupa chatting bersama teman :P. Maka saat kita chatting itulah kita berada pada domain makhluk sosial. Kesimpulannya, domain sosial kita berfungsi saat kita berhubungan dengan manusia lain selain kita. Sedangkan saat kita berhubungan dengan selain manusia, maka saat itulah kita berada pada domain individu. Tidak hanya, catatan tugas dari dosen pembimbing, tetapi juga seluruh apa yang ada di alam semesta ini yang bukan termasuk hubungan dengan manusia.

Kalo kita lihat dengan mata kepala sendiri, kerumunan masyarakat tadi memang kumpulan individu. Itu benar. Namun, hanya kumpulan individu saja tidak akan membentuk masyarakat buktinya kumpulan individu di kapal pesiar tadi bukanlah masyarakat. Jadi, masyarakat tidak hanya kumpulan individu, tetapi ada domain sosial pada individu-individu yang berkumpul tadi. Yang sebenarnya, dia bukanlah makhuk individu lagi, melainkan makhluk sosial. Sehingga dari sini perlu ditarik term individu dan digantikan dengan manusia. Manusia adalah term umum dari term khusus makhluk individu dan sosial. Sehingga, masyarakat merupakan kumpulan manusia yang saling bersosialisasi.

Komponen yang ada pada sosialisasi kumpulan manusia mempengaruhi seperti apa bentuk masyarakat. Dalam perspektif seorang Muslim, kita bisa saja membagi masyarakat menjadi masyarakat Islam dan masyarakat bukan Islam. Ini hanyalah salah satu perspektif saja. Perspektif lain tentu ada. Misalnya masyarakat Industri dan masyarakat bukan Industri. Pada artikel sederhana ini hanya dibatasi pada perspektif seorang Muslim. Sehingga, komponen tadi akan mempengaruhi seperti apakah bentuk masyarakat, Islam atau bukan Islam. Lebih dari itu, dengan didetailkannya komponen tadi, akan didapati komponen-komponen yang mempengaruhi bentuk masyarakat.

Apa yang kita butuhkan dalam bersosialisi? Kita akan membutuhkan kesamaan bahasa. Tanpa adanya kesamaan bahasa kita tidak bisa melakukan komunikasi. Namun, hal ini akan dibantah dengan fakta ada orang yang menggunakan bahasa X dan orang lain menggunakan bahasa Y dan mereka bisa saling berkomunikasi. Yaitu satu orang yang menggunakan bahasa X dengan baik mengerti dengan baik bahasa Y dan orang lain yang menggunakan bahasa Y dengan baik juga mengerti dengan baik bahasa X. Sehingga, kesamaan bahasa harus dipersempit dengan kesamaan pemikiran dan peraturan. Mengapa? Karena, bahasa adalah wujud pemikiran. Pemikiran yang sama dapat diwujudkan dalam dua bahasa yang berbeda. Misalnya "blue" untuk orang Inggris masih satu pemikiran dengan "biru" orang Indonesia. Sebab, fakta di antara kedua bahasa tersebut sama. Lantas, kenapa harus juga dalam kesamaan peraturan. Peraturan di sini dimaksudkan pemikiran yang diterapkan. Pemikiran yang diterapkan merupakan pemikiran yang diakui oleh manusia satu dengan manusia lainnya yang dapat digunakan untuk menunjuk sebuah fakta. Pemikiran yang belum menjadi peraturan hanya berkembang pada individu-individu semata. Sehingga, dibutuhkan kesamaan pemikiran dan peraturan agar sosialisasi antar manusia tersebut bisa berlangsung. Kesimpulannya, masyarakat merupakan kumpulan manusia yang mempunyai pemikiran dan peraturan yang sama.

Tommy Aji Nugroho
Bandung, 19 November 2012 pukul 17:17

Thursday, 15 November 2012

Kontemplasi Kata "Ada"

Ono kata orang Jawa, ana kata temen-temen SMA di Pemalang, aya kata temen-temen di Bandung. Banyak orang dari berbagai latar belakang daerah bahkan mungkin hingga ke seluruh penjuru dunia mengenal dan menggunakan term yang maknanya terkandung dalam kata "ada". Term tersebut berbeda-beda bentuknya tergantung dimana dia berada. Tidak seperti term "kunduran truk" yang mungkin hanya dipakai oleh orang Jawa saja. Kamu tau makna dari "kunduran truk"? konteks kalimatnya seperti ini "bemper mobile rusak amergo kunduran truk pas macet nang jalan Nagrek" dalam bahasa Indonesia kalimat tersebut sepadan dengan "bemper mobilnya rusak karena kunduran truk saat macet di jalan Nagrek". Kunduran truk  mempunyai makna berupa akibat yang ditimbulkan saat truk bergerak mundur hingga menabrak sesuatu di belakangnya.

Term "ada" ada di mana-mana. Itu pertanda bahwa kata "ada" dan maknanya digunakan oleh banyak orang di dunia. Pertanyannya, apa yang dimaksud dengan "ada"? Ini tidak lain berupa makna yang terkandung di dalam term tersebut. Makna "ada" tidak bisa dilepaskan dari orang-orang yang menggunakannya. Orang-orang itulah yang sebenarnya mengerti makna kata "ada" sehingga menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Bisakah kita melepaskan term "ada" dalam keseharian?

Orang menggunakan term "ada" sesaat setelah berhasil menemukan sesuatu. Antara sesuatu dengan "ada" saling berkaitan erat. Penemuan secara sederhana yang dilakukan seseorang dilakukan dengan menggunakan alat inderanya. Dengan alat inderanya dan mungkin dibantu dengan kedua kaki dan tangannya, sesuatu yang tersembunyi menjadi tersingkap. Sebenarnya, adanya sesuatu tidak tergantung pada aktivitas penemuan. Sebab, dengan aktivitas penemuan tidak akan menjadikan yang tidak ada menjadi ada. Yang tidak ada menjadi ada dilakukan dengan aktivitas penciptaan bukan menemukan. Sehingga, dari sini dapat disimpulkan bahwa adanya sesuatu tidak bergantung pada alat indera kita. Alat indera berfungsi untuk menemukan. Sehingga sesuatu tersebut menjadi ada olehnya. Namun bukan berarti sesuatu tersebut menjadi ada. Yang tepat, dengan menemukan sesuatu berarti dia berhasil membuat pengakuan bahwa sesuatu itu ada. Jadi, ada menurut seseorang sama artinya dengan pengakuanya akan sesuatu.

Pengakuan tersebut berupa sesuatu tersebut terikat pada sekat-sekat ruang dan waktu. Selain itu, keterhubungan antara sesuatu dengan alat indera kita tidak ada hambatan. Sehingga sesuatu dengan alat indera kita terhubung. Sekat-sekat ruang dan waktu bekerja pada sesuatu sehingga kita dapat menjangkaunya. Namun, tidak semua sesuatu tersebut bisa kita jangkau. Yang bisa kita jangkau hanyalah sesuatu yang terikat pada sekat ruang dan waktu yang bisa kita jangkau. Artinya, antara ruang dan waktu kita dengan ruang dan waktu sesuatu dapat terhubung sehingga alat indera kita dapat menemukannya. Masa depan, sekarang dan masa lalu adalah arah panah waktu. Arah panah tersebut bergerak dari masa lalu ke masa sekarang dan masa depan. Dengan keterbatasan kita, yang bisa kita jangkau hanyalah masa sekarang. Sedangkan ruang yang bisa kita jangkau ialah ruang yang alat indera kita dapat menjangkaunya. Dengan demikian, ada menurut kita ialah sesuatu yang terikat pada masa sekarang yang menempati ruang yang dapat kita jangkau. Implikasi dari ini, dapat berupa pernyataan bahwa sesuatu pernah ada dan sekarang tidak ada.

Sekat waktu dan ruang bekerja pada sesuatu sehingga dapat kita jangkau. Sesuatu yang bisa kita jangkau ialah sesuatu yang terikat pada masa sekarang dan berada pada ruang yang dapat kita jangkau. Ini terkait dengan keterbatasan alat indera kita untuk menjangkau masa selain masa sekarang dan ruang yang dapat kita jangkau. Namun bukan berarti sesuatu tersebut tidak ada karena alat indera kita tidak bisa menjangkau sekat ruang dan waktu tersebut.

Mungkinkah kita bisa menjangkau sesuatu yang lain selain yang bisa kita jangkau dengan alat indera kita?. Yang harus kita ingat, adanya sesuatu tidak bergantung pada bagaimana alat indera kita menjangkaunya. Sebab, adanya sesuatu tersebut bergantung pada penciptaan bukan aktivitas penemuan. Sehingga, adanya sesuatu tersebut tidak semata-mata hanya dibuktikan keberadaannya dengan alat indera kita. Penjangkauan tersebut bisa dilakukan oleh orang lain. Orang lain yang juga mempunyai keterbatasan alat indera seperti kita bisa saja menjangkau sesuatu yang tidak bisa kita jangkau. Sebab, jangkauan kita dan orang lain bisa saja tidak sama. Kita dan orang lain mempunyai jangkauan alat indera yang berbeda-beda. Mungkin kita tidak bisa menjangkau masa perang 1945, namun kakek dan nenek kita mampu menjangkaunnya.

Dari sini, meskipun alat indera kita mempunyai keterbatasan, kita tetap bisa mengetahui akan adanya sesuatu yang dengan alat indera kita tidak bisa menjangkaunya. Hal ini biasa disebut dengan penuturan. Adanya penuturan oleh orang lain memungkinkan kita menjangkau sesuatu yang tidak bisa kita jangkau dengan alat indera kita. Namun bukan berarti hal ini luput dari permasalahan. Pada artikel  Permasalahan dalam Berpikir permasalahan dalam berpikir terletak pada bagaimana kebenaran hasil berpikir kita. Hal ini dapat pula diterapkan pada penuturan yang dengannya kita berpikir tentang apa yang ada pada penuturan itu.

Selain penuturan, kita juga bisa menggunakan jalan lain berupa indikasi. Indikasi bisa saja kita terima sebagai jalan menjangkau sesuatu yang tidak terjangkau oleh alat indera kita. Asalkan indikasi tersebut dapat dipastikan kebenarannya. Kita tidak pernah bertemu dengan orang tua teman kita. Karena teman kita berasal dari tempat yang tidak pernah kita jangkau sebelumnya. Akan tetapi kita bisa memastikan bahwa teman kita pasti mempunyai orang tua. Karena teman kita masuk dalam objek indikasi bahwa setiap anak pasti pernah mempunyai orang tua. Tidak ada seorang anak terlahir di dunia tanpa adanya orang tuanya.

Sesuatu yang ada yang sedang kita bahas ini ialah sesuatu yang memungkinkan alat indera kita dapat menjangkaunya. Biasanya untuk hal ini disebut dengan fakta. Jadi, fakta menjadi bagian dari sesuatu yang ada. Namun, ada tidak harus berupa fakta. Sebab, terdapat sesuatu yang dikatakan ada dan bukan fakta.

Keberadaan Tuhan, tidak terikat dengan ruang dan waktu. Sebab keterikatan sesuatu pada ruang dan waktu membatasi orang-orang yang tidak bisa menjangkaunya. Sesuatu yang terikat pada ruang dan waktu hanya dapat dibuktikan keberadaannya oleh orang yang dapat menjangkaunya. Sehingga tidak semua orang bisa membuktikan keberadaan sesuatu tersebut. Sedangkan Tuhan, keberadannya harus dibuktikan oleh semua orang yang mana setiap dari mereka mempunyai jangkauan ruang dan waktu yang berbeda-beda. Tuhan yang tidak terikat pada ruang dan waktu bukan berarti tidak ada. Tepatnya, Tuhan bukanlah fakta yang dapat dijangkau dengan alat indera manusia. Sebagaimana diuraikan di awal, dalam penelusuran makna "ada" pada tulisan ini diawali dari apa yang orang-orang sebut dengan "ada". Tuhan termasuk bagian dari apa yang orang-orang sebut dengan "ada". Tuhan itu ada. Dengan demikian, ada tidak harus dapat dijangkau dengan penemuan alat indera kita. Dengan jalan lain, keberadan Tuhan dapat kita buktikan.

Tommy Aji Nugroho
Bandung, 16 November 2012 pukul 01:15 WIB

Tidak Sedang Berpikir ?

Siang ini, hpku berdering, pertanda ada sms yang masuk

"Aslm,. kang, punteun mau nanya, kalo berimajinasi teh bisa disebut berpikir gak ya?".

aku balas sekenanya

*Wlkmslm,. imajinasi yang seperti apa ya, %&$#*^ (sensor nama :):) )?*

"Masalahnya kayak orang yang lagi gambar spongebob. Si pengarangnya menggabungkan informasi sebelumnya yang dia terima. Dia terima informasi sebelumnya bahwa bentuk spons seperti itu dan manusia seperti itu. Langsung dia gabungkan dua konsep itu lahirlah Spongebob. Nah berarti berimajinasi hanya membutuhkan otak dan informasi sebelumnya ya kang? Berarti itu bukan berpikir ya kang?".

Aku pikir ini pertanyaan kritis. Bagaimana tidak, Spongebob yang merupakan sebuah karya imajinasi manusia yang mempunyai penggemar yang tidak sedikit di seluruh dunia dikatakan bukan hasil berpikir seseorang. Jika Spongebob diklaim bukan hasil berpikir seseorang tanpa disertai penyusunan dasar argumen, aku kurang respek terhadap klaimnya. Tetapi, klaim tersebut dilandasi dasar argumen bahwa pembuat Spongebobe hanya merangkai dua informasi sebelumnya yaitu tentang spons dan manusia. Jika digabungkan, lahirlah sebuah karya yang cukup digemari oleh berbagai kalangan di seluruh penjuru dunia.

Aku pun berusaha untuk membalas sms tersebut. Ada harapan, semoga saja jawaban yang kuberikan dapat bermanfaat baginya. Aku memulainya dari yang normatif bahwa secara sederhana berpikir mempunyai komponen berupa fakta, alat indera, akal, dan informasi sebelumnya. Maksudnya, proses berpikir akan berlangsung dengan adanya keempat komponen tersebut. Jika satu saja komponen hilang, proses berpikir tidak dapat dijalankan.

Dalam perkembangannya, otak atau akal manusia mampu menampung gambaran atau penyerapan fakta. Oleh kita, hal tersebut  biasa disebut sebagai ingatan. Ingatan bukanlah fakta. Sebab, fakta dapat diukur dengan besaran-besaran Fisika. Akan tetapi tidak dengan ingatan. Ingatan tidak dapat diukur dengan besaran-besaran Fisika. Akan tetapi bukan berarti itu tidak bisa dijadikan komponen berpikir. Jika dibandingkan dengan uraian smsnya, informasi sebelumnya bentuk spons dan manusia mengandung informasi sebelumnya dan gambaran fakta spons dan manusia. Sehingga dengan demikian, seseorang pembuat Spongebob dikatakan telah berpikir? Belum tentu, mari kita buktikan.

Sebenarnya, apa yang kita butuhkan dalam berpikir? Jika dilihat dari urutan prosesnya, yang dikaitkan dengan informasi sebelumnya oleh akal adalah penyerapan fakta bukan fakta itu sendiri. Sebab, fakta tidak akan berarti apa-apa tanpa alat indera kita menyerapnya menjadi penyerapan fakta. Jadi sejatinya yang digunakan dalam proses berpikir bukanlah fakta melainkan penyerapan fakta. Pembuat Spongebob memenuhi komponen berupa inforamsi sebelumnya dan penyerapan fakta atas spons dan manusia. Dengan akalnya, keduanya dihubungkan dan memungkinkan terjadinya proses berpikir. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pembuat Spongebob sedang berpikir. Artinya ia tidak membutuhkan fakta berupa spons dan manusia. Jadi, fakta tidak dibutuhkan dalam berpikir? Tidak, selagi ada penyerapan fakta. Fakta tidak diperlukan dalam proses berpikir. Akan tetapi fakta dibutuhkan oleh alat indera agar bisa menjalankan fungsinya sehingga dihasilkan penyerapan fakta. Tanpa fakta tidak ada hasil penyerapan atasnya.

Selain itu, dengan adanya penyerapan fakta, pembuat Spongebob tidak lagi membutuhkan alat inderanya untuk berpikir. Sebab, alat indera dibutuhkan untuk menyerap fakta. Keadaannya, penyerapan fakta sudah ada. Sehingga, alat indera tidak dibutuhkan lagi, namun ia tetap bisa berpikir. Dari sini dapat disimpulkan bahwa komponen berpikir dapat diringkas manjadi tiga komponen saja, penyerapan fakta, informasi sebelumnya, dan akal. Dengan catatan, penyerapan fakta merupakan hasil berfungsinya alat indera terhadap fakta. Jika tidak ada fakta, penyerapan fakta yang dihasilkan adalah dengan cara mengada-ada. Kita biasa menyebutnya dengan kebohongan dan aktivitas terhadapnya biasa dikatakan berkhayal. Jadi, berkhayal tidak bisa dikatakan sebagai aktivitas berpikir. Berkhayal berbeda dengan berimajinasi. Karena dalam berkhayal, penyerapan fakta dan fakta tidak akan terhubung.

Hubungan penyerapan fakta dan fakta menentukan apakah proses yang berlangsung terhadapnya bisa dikatakan berpikir atau tidak. Orang yang berkhayal tidak pernah menghubungkan penyerapan fakta dengan fakta. Untuk itulah berkhayal bukan berpikir. Suatu fakta, bagaimanapun itu, akan terikat pada sekat-sekat ruang dan waktu. Hasil proses berpikir akan mengikuti sekat-sekat ruang dan waktu. Tidak bisa tidak, karena perubahan fakta terhadap ruang dan waktu sangat memungkinkan untuk terjadi. Kita akan mengabarkan pada orang tua bahwa bus yang kita tumpangi sedang berada di KM 100 tol Cipularang pada satu waktu. Akan tetapi kita tidak bisa mengabarkan informasi yang sama pada selang waktu 30 menit setelahnya dengan asumsi bus bergerak  dengan kelajuan konstan meninggalkan kota Bandung.


Tommy Aji Nugroho
Bandung, 16 November 2012 pukul 00:00 WIB

Saturday, 10 November 2012

Pelajaran yang Tak Lekang Oleh Waktu

Ingatan itu masih ada. Meskipun sudah 10 tahun berlalu. Siang hari di dalam kelas di sebuah sekolah yang terletak di tengah sawah, bu Yuli mengajarkan kami suatu materi tentang asosiasi. Bu Yuli adalah guru bahasa Indonesia SMP kami waktu kelas 2. Beliau adalah salah satu guru yang terkenal di kalangan sekolah kami karena kecantikan wajahnya. Ya, orang-orang mengenalnya dari wajahnya yang cantik. (bu Yuli apa kabar? semoga Ibu baik-baik saja, terima kasih untuk pelajaran yang Ibu berikan.. :). Ohya, kembali ke pelajaran asosiasi, waktu itu bu Yuli melontarkan suatu kata kepada kami. Kamipun disuruh menyebutkan kata-kata yang berasosiasi dengannya. Kalau tidak salah ingat, beliau menyebutkan kata "pantai". Kami pun memikirkan kata apa saja yang berasosiasi dengan kata pantai. Beberapa kata terlontar membumbung di ruang kelas. Kemudian bu Yuli menanggapinya, memberikan satu patah kata sehingga sampai saat ini aku masih mengingatnya sebagai pelajaran yang tak akan lekang oleh waktu. hoho.

Memang benar, pelajaran yang satu inilah yang sampai saat ini dapat aku ingat dengan baik. Selebihnya, tidak dapat ku ingat dengan baik. Mungkin seperti itulah cara mengajar yang baik, dengan menciptakan suatu suasana partisipatif antara guru dan muridnya.

Kini, setelah sekian tahun lamanya pelajaran itu diberikan, aku akan coba untuk belajar secara mandiri. Membangun suasana interaktif pada diri ini. Di sebuah ruang yang tidak dapat di isi oleh bangku dan meja sekolah apalagi sedikit tempat kosong untuk bu Yuli berdiri membangun suasana interaktif tadi. Kontemplasi cukuplah dilakukan di benak ini. Pada satu sesi aku akan menjadi bu Yuli yang melontarkan satu kata, pada sesi lain aku akan menjadi teman-temanku yang melontarkan kata-kata yang berasosiasi dengannya dan aku berharap "bu Yuli" bisa hadir kembali untuk menerangkan apa maksud semua ini.

Baiklah, aku akan melontarkan kata "manusia". Kira-kira apa saja kata yang berasosiasi dengan kata tersebut?. Manusia, hidup, kebutuhan, keinginan, makan dan minum, rekreasi, makhluk individu, sosial, komunikasi, naluri, buang air besar dan kecil, berpikir, berperasaan, aktivitas, ekonomi, politik, industri, keamanan, pendidikan, kesehatan, kesepian, keluarga, pernikahan, motivasi, inspirasi dan sebagainya.. Ternyata banyak betul kata yang berasosiasi dengan kata manusia. Begitu komplekskah hidupnya manusia? Begitu kompleksnya manusia dan hidupnya di dunia. Mungkin kita tidak menyadarinya bahwa itu terlalu kompleks.

Pelajaran selanjutnya aku dapatkan dari aktivitasku di kampus. Di kampus ini aku dipertemukan dengan saudara seiman yang mencoba mengajakku pada penyadaran kehidupan. Ya, aku diajak untuk menyadari bagaimana kompleksitas kehidupan manusia tersebut dapat terjadi. Pelajaran diawali dengan memahami hakekat manusia seutuhnya.

Pada hakekatnya, manusia adalah makhluk istimewa yang diberikan beberapa potensi berupa potensi akal, kebutuhan jasmani dan naluri. Dari potensi inilah lahir kompleksitas manusia. Sehingga penyadaran akan kompleksitas manusia selalu diawali dengan hakekat manusia itu sendiri.

Naluri manusia meliputi, naluri bertuhan, mempertahankan diri, dan naluri mempertahankan keturunan. Kita diajarkan guru SD bagaimana sejarah perjalanan pencarian Tuhan oleh manusia. Dahulu manusia menyembah berhala, matahari, patung, gunung dan sebagainya. Manusia menyembah sesuatu yang dianggapnya lebih kuat dari dirinya. Ia merasa lemah di hadapan sesuatu yang disembahnya. Naluri ini sama dengan kita yang Muslim yang menghambakan diri kepada Allah. Allahlah Yang Maha Kuasa. Kita menyadari bahwa diri kita lemah dan menghambakan diri padaNya adalah wujud pengakuan kita bahwa Allah Yang Maha Kuasa. Ritualitas mampu menjawab tantangan yang lahir dari naluri bertuhan manusia. (Kamu bisa mengunjungi tulisanku yang lain tentang ritualitas Ritualitas, Pengakuan atas Diri yang Terbatas  :) )

Kedua adalah naluri mempertahankan diri. Naluri ini menjaga eksistensi diri manusia di dunia. Wanita yang menjinjing tas akan teriak saat tasnya dijambret orang. Rentang waktu teriakannya dan sesaat penjambret beraksi mengambil tas yang berisi barang berharga seorang wanita begitu dekat. Wanita tadi tidak perlu berpikir matang-matang untuk menyadari bahwa dirinya sedang dijambret. Saat itulah naluri mempertahankan diri memantik teriakannya. Kita akan menemukan banyak contoh lain di kehidupan ini bagaimana seorang manusia mempertahankan dirinya dengan naluri ini. Seorang politikus yang mempertahankan gagasannya saat berdebat walaupun itu sudah dibuktikan kesalahannya adalah contoh lainnya.

Ketiga adalah naluri mempertahankan keturunan. Seorang laki-laki akan tertarik pada seorang perempuan. Ketertarikan dapat berupa pemendaman perasaan hingga perilaku menyimpang. Kita, orang tua kita, kakek dan nenek kita, buyut kita akan mengalami hal yang sama, tertarik pada lawan jenis.

Potensi lain yang diberikan Allah pada kita adalah adalah kebutuhan jasmani yang berupa kebutuhan akan makan, minum, tidur, dan buang air. Jika tidak dipenuhi, kebutuhan ini dapat menimbulkan kerusakan pada manusia hingga kematian. kebutuhan ini wajib dipenuhi. Dapat dibayangkan, bagaimana jadinya kita tidak makan untuk beberapa hari. Pada hari kesekian kita tidak makan kita akan mengalami kematian.

Permasalahan kehidupan manusia terletak pada bagaimana pemenuhan kebutuhan jasmani dan nalurinya. Kita akan melihat itu pada pemikiran buah karya para pemikir ataupun filsuf. Namun, tulisan ini dicukupkan pada potensi manusia ini tidak sampai pada solusinya. Karena itu pembahasan yang lain dan dibutuhkan pembahasan lain untuk melengkapinya.

Ada yang menarik dari itu semua, bahwa ketiga potensi tersebut saling berkaitan. Kebutuhan jasmani dan naluri adalah sesuatu yang perlu dipenuhi, diatur dan dikenalikan. Di sinilah letak akal pikiran manusia. Allah memberikan akal pikiran agar kita dapat memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri sesuai dengan keridhaanNya. Seperti apa pemenuhan naluri mempunyai keturunan yang diridhaiNya, di sinilah peran akal bekerja....



Mungkinkah Informasi Sebelumnya Berasal dari Akal Manusia?

"Mungkinkah informasi sebelumnya berasal dari akal manusia?"

Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita telusuri terlebih dahulu seperti apa itu informasi sebelumnya dan akal manusia. Pertama, informasi sebelumnya merupakan salah satu komponen yang berlangsung dalam proses berpikir. Informasi sebelumnya tidak inheren di dalam fakta. Sebab, fakta bukanlah sumber informasi sebelumnya. Fakta merupakan objek penimpaan informasi sebelumnya. Orang Inggris akan menyebut "blue" dan orang Indonesia akan menyebut "biru" untuk satu fakta yang sama berupa fakta yang berwarna yang orang Inggris menyebutnya "blue" dan orang Indonesia menyebutnya "biru". "Blue" dan "biru" adalah dua informasi sebelumnya yang berbeda namun keduanya berkorespondensi dengan satu fakta yang sama. Maka dapat dipastikan bahwa informasi sebelumnya tidak inheren di dalam fakta. 

Informasi sebelumnya berasal dari luar fakta. Wahyu merupakan informasi sebelumnya yang berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang berarti juga dari luar fakta. "Blue" dan "biru" juga bukan dari fakta melainkan dari Orang Inggris dan Indonesia.

Kedua, akal merupakan khasiat atas otak manusia. Khasiat tajam inheren di dalam pisau sehingga dapat digunakan untuk membelah benda-benda yang memungkinkan. Khasiat tajam pada pisau memungkinkannya mempunyai fungsi membelah benda-benda yang memungkinkan. Khasiat akal pada otak memungkinkan manusia berpikir atas apa-apa yang memungkinkan. Hasil berfungsinya khasiat pisau adalah terbelahnya benda-benda, sedangkan hasil berfungsinya khasiat otak adalah pemikiran. Sehingga tersampaikannya pemikiran dari seseorang menandakan bahwa dia telah berpikir. Manusia mewujudkan pemikiran dalam bentuk bahasa, tanda, simbol, dan sebagainya. Sehingga pemikiran tidak lagi abstrak sebagaimana pemikiran tersimpan di dalam benak manusia.

Pertanyaannya ketika orang Inggris berhasil menyebut "blue" atas suatu fakta yang berwarna, itu pemikiran atau informasi sebelumnya? Ini hanyalah persoalan relativistik. Bagi orang Indonesia yang biasa menyebut "biru" untuk suatu fakta yang berwarna dan tidak menyebut dengan sebutan lainnya, ketika mendengar orang Inggris menyebut "blue"  akan menjadi informasi sebelumnya bagi orang Indonesia tersebut. Akan tetapi, bagi orang Inggris yang sudah terbiasa menyebutnya dengan "blue" itu adalah pemikiran yang diadopsinya. Akal orang Inggris tadi mampu menghasilkan pemikiran sehingga menyebutnya dengan "blue" yang bagi orang Indonesia tadi "blue" adalah informasi sebelumnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa akal manusia memungkinkan sebagai sumber informasi sebelumnya. Namun, dengan catatan informasi sebelumnya tadi tidak digunakan untuk dirinya sendiri dalam berpikir, akan tetapi boleh digunakan orang lain dalam berpikir. Sebab, bagaimanapun juga orang Inggris tadi menerima informasi sebelumnya berupa "blue" dari orang Inggris yang lainnya juga. Tanpa informasi sebelumnya dari orang Inggris lainnya, ia tidak dapat berpikir. Kesimpulannya, akal manusia tidak bisa menghasilkan informasi sebelumnya untuk dirinya sendiri akan tetapi bisa untuk orang lain.





Wednesday, 7 November 2012

Permasalahan dalam Berpikir

Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menganugerahkan kita potensi akal. Akal digunakan untuk berpikir. Berpikir menjadi suatu keniscayaan bagi kita. Kita menjalani kehidupan di dunia dengan serangkaian berpikir dan berbuat. Saat kita sendiri atau bersama dengan seorang teman, kerabat, relasi kerja dan yang lainnya senantiasa kita lakukan aktivitas berpikir. Terkadang, berpikir menjadi kunci seperti apa perbuatan yang akan kita lakukan terhadap sesuatu. Untuk itulah berpikir menjadi penting. Berpikir mempengaruhi perbuatan seseorang terhadap sesuatu.

Sebelum, kemana-mana ada baiknya kita definisikan terlebih dahulu apa itu berpikir. Supaya tidak ada perbedaan persepsi tentang berpikir itu sendiri :) . Sebagaimana diuraikan sebelumnya, dalam hal ini aku mengadopsi pandangan an-Nabhani untuk menjawaban apa itu berpikir. Uraiannya bisa dilihat di sini http://tommyajinugroho.blogspot.com/2012/11/apa-itu-berpikir.html. Jadi, berpikir adalah aktivitas alat indera menyerap fakta, kemudian diasosiasikan dengan informasi sebelumnya untuk ditafsirkan hasilnya oleh akal. Hasil akhirnya adalah pemikiran. Pemikiran dapat diartikan sebagai status sebuah fakta, atau gambaran tentang fakta.

Mari kita bayangkan bagaimana proses berpikir itu berlangsung. Pernahkah kita membayangkan bahwa dahulu kita pernah berpikir tentang siapa ibu kita? Ya, ibulah guru pertama kita di dunia yang memperkenalkan bagaimana aktivitas berpikir dapat kita lakukan. Ibu memandangi kita kecil yang tidak berdaya dengan penuh kasih sayangnya. Ibu mengucapkan kata-kata sederhana yang memantik potensi keingintahuan kita.

"Ini siapa?" "ini ibu".

Begitulah guru pertama mengajari kita berpikir. Hingga akhirnya kita selalu mengenal siapa ibu kita. Ya, ibu yang sedang memperkenalkan dirinya adalah fakta. Saat itu, beliau sedang memperkenalkan dirinya sebagai fakta. Kita dilatih untuk menggunakan indera penglihatan. Ibu menarik perhatian dengan cara memandangi mata kita dengan penuh kasih sayang. Sehingga kita juga memandanginya dan saat itulah kita sedang berlatih menggunakan indera penglihatan kita. Begitulah cara ibu melatih kita menggunakan indera penglihatan kita. Betapa hebatnya ibu, guru pertama kita di dunia. :)

Selain itu, ibu juga melatih kita bagaimana menggunakan indera pendengaran kita. Melalui ucapannya yang sederhana, kita diajarkan bagaimana indera pendengaran bisa mendengarkan kata-kata yang diucapkannya. Itulah saat dimana kita sedang dilatih untuk menggunakan alat-alat indera.

Tidak sampai di situ, ibu juga melatih kita memberdayakan potensi akal. Mengajukan pertanyaan "ini siapa?" sesaat setelah kita berhasil memandanginya adalah upayanya. Pertanyaan tersebut kita serap dengan indera pendengaran, fakta berupa ibu tadi juga kita serap yaitu dengan indera penglihatan, keduanya disampaikan ke otak, dan saat itulah akal kita sedang dilatih untuk berpikir. Berikutnya, kita akan mencari jawaban atas pertanyaan ibu. Jawaban didapat dengan cara berpikir tadi. Beberapa komponen berpikir sudah kita penuhi sehingga kita akan bisa berpikir. Fakta, alat indera, dan akal adalah komponen yang sudah kita penuhi. Kita membutuhkan satu komponen yang melengkapinya sehingga kita dapat berpikir. Untuk itulah ibu mengucapkan "ini ibu". Saat itulah ibu memberikan informasi sebelumnya melalui ucapannya. Sehingga akal kita dapat mengasosiasikan fakta yang terserap tadi dengan informasi sebelumnya dan kita dapat menemukan jawaban atas pertanyaan ibu. Tanpa informasi sebelumnya berupa "ini ibu" kita tidak bisa berpikir.

Seperti itulah proses berpikir berlangsung. Setiap hari kita menjalani serangaian proses berpikir yang secara mendasar sudah diajarkan oleh ibu kita.

Dalam perkembanganya, aktivitas berpikir menjadi semakin rumit. Komponen berpikir yang secara sederhana berupa fakta, alat indera, akal, dan informasi sebelumnya mulai tergantikan. Tidak semua komponen yang tergantikan, hanya sebagian saja. Terkadang kita tidak menyadari akan hal itu. Padahal itu menyimpan suatu masalah.

Sebelum diuraikan apa permasalahannya, ada baiknnya kita telusuri mengapa hal itu dikatakan sebagai masalah. Di atas sudah disampaikan bahwa hasil akhir berpikir adalah pemikiran, yaitu status atas fakta. Sebagai manusia selain condong pada kebaikan, kita juga condong pada kebenaran. Benar berarti sesuai dengan fakta. Artinya, kita menganggap pemikiran yang kita hasilkan sesuai dengan fakta. Saat kita menganggap benar "itu ibu" berarti saat itu pula kita menganggap pemikiran "ini ibu" sesauai dengan fakta. Sehingga disimpulkan bahwa permasalahan seputar pemikiran berupa status benar tidaknya pemikiran tersebut.

Dewasa ini, dengan perkembangan teknologinya, aktivitas berpikir kita mampu menembus batas ruang dan waktu. Kita bisa memikirkan seperti apa itu gunung Fuji, sebagaimana kita memikirkan siapa yang layak kita sebut sebagai ibu saat kita kecil dahulu. Padahal keduanya berbeda, kita menemukan fakta berupa ibu secara langsung. Tidak halnya dengan gunung Fuji yang tidak pernah kita indera secara langsung. Namun, kita dapat memikirkan keduanya (hal ini diakui oleh masyarakat umum bahwa kita juga berpikir walaupun tidak mengindera fakta secara langsung). Mengapa? itu tidak lain karena masyarakat umum sudah mengakui bahwa fakta dapat diwakilkan dengan simbol, gambar, video, tanda dan sebagaianya. Yaitu, gunung Fuji tadi kita wakilkan dengan video atau foto gunung Fuji. Inilah salah satu hasil peradaban manusia sekarang, mengakui pengganti fakta sebagai fakta yang sesungguhnya.

Permasalahan tersebut berpangkal dari keberpihakan kita akan kebenaran, yaitu, kesesuaian pemikiran akhir dengan fakta yang sesungguhnya. Masalah timbul karena kita menyangsikan kebenaran suatu pemikiran. Untuk itu kita akan melakukan pengujian apakah pemikiran tersebut benar.

Semakin bertingkat penggantian fakta, semakin bertingkat pula pengujian kebenaran pemikiran terhadapnya. Misalnya untuk kasus memikirkan gunung Fuji tadi. Sebelum menguji apakah benar itu gunung Fuji, kita akan menguji apakah foto tersebut benar-benar menggantikan gunung Fuji yang merupakan fakta sesungguhnya. Demikianlah seputar permasalahan dalam berpikir. Dalam kehidupan nyata, sesungguhnya kita akan menemukan permasalahan yang lebih rumit daripada memikirkan foto gunung Fuji. Hingga terkadang kita terpeleset dalam kestidakbenaran berpikir. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'aala senantiasa memberikan kekuatan akal dan kejernihan pikir, sehingga kita akan terhindar dari ketidakbenaran dalam aktivitas berpikir.

Bersambung... :)

Tuesday, 6 November 2012

Apa Itu Berpikir

Apa itu berpikir?

Sebuah pertanyaan menarik untuk diajukan. Menariknya, untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu melakukan suatu aktivitas yang biasa disebut dengan berpikir itu sendiri. Pertanyaan ini tak ubahnya menyentil kita dengan apa yang sedang kita lakukan dengan pertanyaan yang diajukan dan dicarinya jawaban. Seberapa lama kita mencari jawaban selama itu pula kita sedang melakukan apa yang kita cari.

Penelusuran kita akan jawaban pertanyaan tersebut tidak bisa kita lepaskan dari deretan kata yang membentuk tulisan ini. Untuk mendapatkan jawaban apa itu berpikir kita perlu mengaitkan pertanyaan tersebut dengan apa yang sedang kita lakukan dengan tulisan ini. Kita perlu menurunkan apa yang kita lakukan sekarang dengan tulisan ini. Akal kita bekerja setelah mata (salah satu panca indra) melihat tulisan. Tanpa keduanya kita tidak bisa memikirkan jawaban pertanyaan tersebut.

Pertanyaannya, apakah itu yang namanya berpikir? Sekarang kita misalkan saja, huruf di tulisan ini kita ganti dengan huruf yang tidak kita mengerti sebelumnya. Misalnya saja, huruf Kanji. Tulisan dengan huruf latin ini adalah lama dan yang baru adalah tulisan dengan huruf Kanji. Semua term dan maknanya di tulisan yang lama dan yang baru adalah sama. Masihkah kita dapat memikirkannya? Tidak. Selama tidak mempunyai informasi sebelumnya tentang term dan maknanya yang ada di tulisan berhufur Kanji, kita tidak dapat memikirkannya. Sampai di sini disimpulkan bahwa untuk bisa berpikir kita perlu informasi sebelumnya. Yaitu, term dan maknannya dalam huruf Kanji. Sehingga kita simpulkan bahwa dalam berpikir terdapat komponen-komponen yang menunjang keberlangsungannya. Yaitu berupa alat indera, akal, dan informasi sebelumnya..

Lagi-lagi kita tinjau ulang, apakah hanya ketiga komponen tersebut yang membangun komponen berpikir?. Nyatanya hasil kerja alat indera ada dengan adanya sesuatu yang lain selain alat indera itu sendiri. Memang, keberadaan alat indra tidak bergantung pada sesuatu yang lain tersebut. Jadi, untuk apa kita sertakan sesuatu yang lain tersebut?. Hal ini karena yang sedang kita bahas bukan keberadaan alat indera, melainkan hasil yang diperoleh dari bekerjanya alat indera. Adanya hasil tersebut karena alat indera bekerja pada objek. Jadi sesuatu yang lain tersebut adalah objek atau biasa disebut juga dengan fakta.

Jadi, komponen yang turut membangun aktivitas berpikir adalah fakta, alat indera, akal, dan informasi sebelumnya. fakta didefinisikan dengan apa-apa yang ada dan dapat diserap oleh alat indera. Alat indera berupa indera penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan pengecap. Sedangkan akal merupakan khasiat yang diberikan pada ota manusia. Informasi sebelumnya adalah informasi yang ada sebelum manusia berpikir. Jadi, berpikir adalah aktivitas alat indera menyerap fakta, kemudian diasosiasikan dengan informasi sebelumnya untuk ditafsirkan hasilnya oleh akal.

Kita Bukanlah "Buruh"

Pecahnya Gelas Kaca

Sebuah gelas kaca diletakkan di atas meja. Meja terletak di atas lantai. Panjang kaki meja tidak lebih dari 75 cm. Secara perlahan, gelas tadi disentuh dan digeser ke tepi hingga akhirnya alas gelas kaca tidak bersentuhan lagi dengan meja. Gelas terjatuh menyentuh lantai dan pecah “pyarrr..”. Sekarang, gelas tak berbentuk seperti semula. Gelas berubah menjadi pecahan gelas.

Ada satu pertanyaan yang layak diajukan dalam peristiwa ini. “Dapatkah peristiwa tersebut berbalik sehingga pecahan gelas tadi berubah menjadi gelas kaca seperti semula?”. Maksud pertanyaan ini adalah pecahan gelas kaca tersebut bersatu sesuai posisi awalnya sesaat sebelum menyentuh lantai. Kemudian naik ke atas menyentuh meja dan bergeser ke posisi semula sebelum tersentuh sama sekali.

Kita semua tahu jawabannya, bahwa peristiwa tersebut tidak dapat berbalik. Ya, pecahan gelas tadi tidak bisa berbalik menjadi gelas kaca seutuhnya setelah berubah bentuk menjadi pecahan gelas. Pertanyaannya, mengapa bisa seperti itu?

Dalam tinjauan Fisika, peristiwa tersebut adalah peristiwa alam. Alam bekerja sesuai aturan tertentu. Aturan ini (peristiwa gelas kaca pecah) berhasil dibukukan dalam Fisika yang kemudian kita kenal dengan hukum kedua Termodinamika. Hukum Kedua Termodinamika ini menjelaskan bahwa semua sistem (Fisika.red) yang dibiarkan tanpa gangguan akan rusak, terurai, dan tak beraturan sejalan dengan waktu.

Jadi, dalam peristiwa pecahnya gelas tadi, pembiaran terjadi pada saat gelas terjatuh bebas hingga membentur lantai. Hal ini tidak bisa dikatakan, bukankah justru karena adanya gangguan (bergesernya gelas) yang menyebabkan gelas pecah?. Sebab, gangguan hanya terjadi saat tersentuh dan bergesernya gelas hingga gelas tidak bersentuhan lagi dengan meja. Seandainya ganguan ada saat gelas jatuh bebas, gelas tidak jadi pecah. Karena pada akhirnya gelas pecah, berarti terjadi pembiaran saat gelas terjatuh bebas.

Kerusakan pada sistem, terjadi sejalan dengan waktu. Inilah alasan mengapa tidak bisa terjadi peristiwa sebaliknya, pecahan gelas di lantai menjadi gelas kaca seutuhnya di atas meja. Sebab, peristiwa sebaliknya tersebut tidak sejalan dengan waktu.

Peristiwa di atas adalah salah satu contoh peristiwa alam yang dijelaskan oleh hukum kedua Termodinamika. Ada banyak peristiwa lain yang dapat dijelaskannya, sebab ini merupakan hukum utama dari semua ilmu pengetahuan. Itu merupakan pengakuan Albert Einstein. Bahkan, astronom Sir Arthur Stanley Eddington juga menyatakan bahwa hukum kedua Termodinamika ini adalah hukum metafisika tertinggi di jagat raya ini.1

Melalui hukum fisika ini, kita tahu bahwa sistem atau materi-materi di alam semesta akan berubah menjadi materi yang rusak, tidak teratur, dan terurai jika dibiarkan sepanjang waktu. Contoh lainnya adalah mobil yang kita parkir di padang pasir. Setahun kemudian kita akan lihat kaca mobil pecah, bannya kempes, bampernya berkarat, dan sebagainya. Peristiwa tersebut tidak mungkin berbalik berlawanan arah panah waktu.
Hukum ini juga berlaku untuk makhluk hidup. Termasuk diri kita ini.

Karl Marx
“Manusia yang membuat sejarahnya itu tidak menyadari bahwa dirinya adalah subjek sejarah” (Hardiman, 2009)2.

Di dalam bukunya, Hardiman mengungkapkan pendapat Habermas mengenai pemikiran dialektis materialismenya Karl Marx. Bagi Karl Marx, buruh, alat-alat produksi, dan pemilik modal menarik untuk diamati. Buruh bekerja dengan alat-alat produksi untuk mengubah bahan baku menjadi komoditas yang mempunyai harga. Kerja buruh ditukar dengan upah. Upah digunakan buruh untuk mempertahankan kehidupannya. Adapun harga komoditas yang telah dihasilkan buruh ditetapkan oleh pemilik modal (bukan buruh tentunya). Penetapan harga inilah menjadikan pemilik modal meraih keuntungan melalui penjualan komoditas yang dihasilkan buruh. Oleh sebab itu, Karl Marx menganggap kerja buruh sebagai sumber “nilai lebih” yang dinikmati pemilik modal.

Kita Bukan Buruh
Karl Marx membangun ideologinya melalui pendekatan dua kelas kehidupan manusia yang mendasar. Mereka adalah kelas pemilik modal dan pekerja (buruh). Pemikiran-pemikiran yang muncul dari ideologinya berkaitan dengan kedua kelas tersebut. Selanjutnya, pemikiran-pemikiran tersebut digunakan untuk mengatur kehidupan manusia.

Nyatanya, kehidupan manusia di dunia ini tidak hanya terbagi menjadi dua kelas tadi. Ada kelas-kelas lain yang tidak masuk ke dalam dua kelas tersebut. Anak kecil yang tidak bekerja, pedagang, pejabat pemerintah, penganggur, guru, dosen, pelajar, bahkan mahasiswa adalah contohnya. Diperlukan pendekatan lain yang lebih universal. Sehingga dengan pendekatan itu, tidak ada satupun peran manusia yang tidak terlingkupinya. Selain itu, pendekatan tersebut juga semestinya bersifat mendasar yang tidak ditemui dasar yang lainnya. Pendekatan tersebut berupa “aku”.

Dalam penulisan kata “aku” digunakan tanda kutip untuk menegaskan bahwa “aku” yang dimaksud bukan hanya diri penulis melainkan juga seluruh manusia yang ada. Selanjutnya kita akan bedah kata “aku”, apa itu “aku”?. Untuk membedahnya, kita gunakan dua pendekatan alamiah yang sangat terkait dengan keberadaan “aku”. Keberadaan dua hal ilmiah tersebut mendeskripsikan keberadaan “aku” di dunia. Artinya, tanpa penyertaan kedua hal alamiah tersebut pada diri “aku”, berarti “aku” tidak ada. Kedua hal alamiah tersebut adalah ruang (tempat) dan waktu.

Sekarang kita gunakan pendekatan ruang dan waktu untuk menelusuri keberadaan “aku” di dunia. Penelusuran tersebut mengharuskan penggunaan alat indera untuk menangkap fakta yang ada pada “aku”. Fakta yang terdekat dengan alat indera “aku” adalah hidupnya “aku” sekarang ini di dunia. Sekarang “aku” ada di dunia, lantas seperti apa “aku” sebelum ada di dunia ini. Kita dapat menjawab pertanyaan tadi dengan menyatakan bahwa “aku” sekarang ada di ITB, dan sebelumnya “aku” ada di Sekolah Menengah Atas masing-masing. Konsekuensinya, jawaban tersebut menimbulkan pertanyaan lanjutan, lantas sebelum ada di SMA “aku” darimana?. Pertanyaan demi pertanyaan akan muncul seiring dengan masih bisanya awal dianggap akhir akhir yang semula awal untuk menemukan apa yang lebih mengawalinya. Pertanyaan ini sesuai dengan kaidah ketidakazalian manusia. Sebagaimana diungkapkan oleh Ghanim Abduh, adanya akhir mengharuskan adanya permulaan3

Pertanyaan selanjutnya adalah hendak kemana “aku” setelah ada di dunia?. Kedua pertanyaan tersebut semestinya kita jawab sebelum kita kemukakan untuk apa “aku” ada di dunia ini?.

Sesuai dengan urutan tersebut, pertanyaan-pertanyaan kita jawab dan akan kita dapatkan jawabannya. Jawaban atas pertanyaan terakhir kita gunakan sebagai landasan dasar mendeskripsikan keberadaan kita di dunia. Hal ini berlaku universal kapan pun dan di mana pun kita berada. Kita sekarang di dalam gedung kuliah, di gubuk-gubuk persawahan, atau pun istana negara. Kita harus menjawabnya, karena itu adalah hal yang mendasar dalam kehidupan kita.

Keberadaan kita di dunia tidak bisa lepas dari alam semesta. Misalnya, kita sedang membaca koran. Koran bagian dari alam semesta. Kita perlu memegangnya secara tepat untuk memastikan koran tidak jatuh ke lantai saat kita baca. Karena kita tahu bahwa koran juga materi yang tidak bisa lepas dari pengaruh gravitasi bumi. Selain itu, koran yang kita baca terkait dengan keberlangsungan waktu saat koran diterbitkan. Kita tahu bahwa semua koran pasti disertai dengan tanggal terbit di bagian kiri atau kanan atas koran tersebut. Dari satu contoh aktivitas kita ini, nyatalah bahwa keberadaan kita di dunia ini tidak bisa lepas dari alam semesta.

Habermas membagi praksis manusia menjadi dua yaitu tindakan instrumental dan tindakan komunikatif. Tindakan instrumental adalah tindakan dasar manusia terhadap kenyataan non-sosial (alam). Sedangkan tindakan komunikatif berkaitan dengan tindakan strategis yang dilakukan terhadap kenyataan sosial4. Artinya, ketika kita membaca koran termasuk bagian dari kegiatan instrumental. Sebab, koran yang menjadi bagian dari alam tadi sedang kita taklukkan dari pengaruh gravitasi bumi tadi. Sedangkan tindakan komunikatifnya bisa berupa kita menceritakan kembali isi koran yang telah kita baca kepada teman-teman kita.

Rentetan tindakan yang kita lakukan baik tindakan instrumental maupun komunikatif dalam kerangka waktu tertentu membentuk sejarah. Untuk itulah Habermas melalui Hardiman menyatakan pemikiran Karl Marx bahwa manusia yang membuat sejarahnya tidak menyadari bahwa dirinyalah subjek sejarah. Manusia yang dimaksud Marx adalah kaum buruh, pekerja. Sedangkan sejarah yang dimaksud adalah sejarah perguliran sejarah Kapitalisme dunia.

Baik kemarin maupun sekarang, kita selalu menjadi bagian dari subjek sejarah. Sejarah mengungkapkan peradaban manusia yang dicetaknya melalui tindakan-tindakan. Terhadap peradaban yang ada sekarang, kita mempunyai dua pilihan sikap. Kita akan tinggal diam untuk memperlama umur peradaban atau bergerak melawan mempersingkat umur peradaban sekarang. Itu pilihan kita. Kita dapat memilihnya setelah menemukan jawaban atas pertanyaan mendasar mengenai keberadaan kita di dunia saat ini. Agar, yang kita pilih benar-benar kita sadari hakikatnya. Sehingga, kita tidak akan diasamakan dengan kaum buruh yang tidak menyadari keberadaannya di dunia turut melanggengkan sejarah Kapitalisme dunia menurut Karl Marx. Kesadaran kita akan sempurna dengan penyertaan ketidakazalian alam semesta. Bahwa menurut Hukum Kedua Termodinamika, waktu tidak mungkin berbalik arah menuju masa lalu. Setiap saat kita mengalami kurangnya kesempatan untuk tetap berada di dunia mencetak peradaban. Rusaknya, mobil yang dibiarkan di padang pasir, hilangnya energi dari batu batere yang kita gunakan menghidupkan komputer, hilangnya kemampuan mendengar telinga, melemahnya ketajaman penglihatan mata, tersendatnya suara yang keluar dari mulut, bahkan melemahnya kelincahan tangan untuk menari di atas keyboard komputer kita adalah suatu keniscayaan adanya. Entah kita akan mengalami atau tidak itu sesuatu yang lain. Jelasnya, itu bisa saja terjadi pada diri kita.

Referensi

[1] id.harunyahya.com/id book/3015/DARWINISME_TERBANTAHKAN/chapter/10479
[2] Hardiman, Budi, Menuju Masyarakat Komunikatif, Yogyakarta ,Kanisius, 2009
[3] Abduh, Ghanim, Kritik Atas Sosialisme Marxisme, Bangil, Al-Izzah,2003
[4] Hardiman, Budi, Menuju Masyarakat Komunikatif, Yogyakarta ,Kanisius, 2009

Kaitan Antara Ide, Ruang, dan Waktu

Perkembangan Ide Tidak Membutuhkan Ruang

Ide merupakan gambaran tentang objek (alam semesta). Proses mendapatkan ide adalah melalui alat indera dan akal pikiran manusia. Alat indera terhubung secara langsung dengan objek. Sedangkan akal pikiran berfungsi mengasosiasikan hasil penyerapan alat indera dengan informasi sebelumnya. Informasi sebelumnya sudah ada sebelum akal pikiran berfungsi. Sehingga dapat dihasilkan ide tentang suatu objek. Perkembangan peradaban manusia menghasilkan dunia yang semakin sempit. Manusia tidak perlu melakukan perjalanan jauh untuk bisa terhubung secara langsung dengan suatu objek yang jaraknya jauh. Manusia mengembangkan media untuk menghubungkan manusia dengan suatu objek. Adanya media tersebut memudahkan manusia menyerap suatu objek yang tidak mungkin ditemuinya secara langsung. Bahkan, media sekarang hampir-hampir menggantikan objek sesungguhnya hingga manusia tidak lagi mementingkannya. Ide dapat berkembang. Ide tersimpan di dalam benak manusia. Benak bersifat abstrak, ia tidak bisa diukur dengan besaran fisika yang biasa digunakan untuk mengukur ruang. Benak berbeda dengan ruang. Sehingga, perkembangan ide tidak membutuhkan ruang. Sampai di sini dapat disimpulkan kaitan antara ide dan ruang.

Keberadaan Materi Membutuhkan Ruang

Materi menjadi bagian dari alam semesta. Materi bersifat makhluk, yaitu keberadaannya tidak abadi. Materi mematuhi kaidah ketidakabadian makhluk yaitu adanya akhir mengharuskan adanya permulaan. Dengan kaidah tersebut, materi sangat terkait dengan waktu. Terkadang, materi diukur oleh besaran tertentu dengan menyertakan waktu sebagai parameter utamanya. Sehingga materi dapat diciptakan. Selain waktu, materi juga terkait erat dengan ruang. Bahkan, materi tidak bisa dilepaskan dari ruang. Ruang ada untuk memposisikan materi sehingga dengan posisi tersebut materi dapat dijadikan objek. Sehingga dengan ruang, materi dapat diidera manusia. Tanpa ruang, materi tidak dapat dikenali. Kesimpulan kedua kita dapatkan di sini, bahwa materi membutuhkan ruang untuk menunjukkan jati dirinya.

Ekspansi Ide Ke Ruang Membutuhkan Materi

Materi bisa dipandang dari sudut pandang yang lain. Materi tidak hanya sebagai materi. Lebih dari itu, materi mengandung sesuatu yang lain selain dirinya. Gambaran tentang objek (materi) adalah sesuatu yang lain dari materi. Namun untuk mendapatkannya, manusia mengikutsertakan materi dalam pencariannya. Tanpa keikutsertaan materi, tentunya tidak akan didapatkan gambaran tentang materi. Sehingga materi mengandung sesuatu yang lain selain dirinya, yaitu ide. Sebab, ide merupakan gambaran tentang objek (materi). Adakalanya adanya materi mendahului ide dan terkadang pula adanya ide mendahului materi. Untuk yang pertama, biasanya dikenal dengan penemuan. Sedangkan yang kedua adalah penciptaan. Kemampuan manusia terbatas. Manusia tidak mungkin menciptakan materi baru. Kemampuan manusia terbatas pada penyusunan materi-materi yang sudah ada. Menyusun materi baru dari materi-materi yang ada membutuhkan ide. Itulah sebabnya, bisa dikatakan ide mendahului materi. Saat materi baru tersusun, ide yang tersimpan di dalam benak keluar menuju ruang. Kesimpulannya, dibutuhkan materi untuk mengekspansi ide ke dalam ruang.