Saturday, 10 November 2012

Pelajaran yang Tak Lekang Oleh Waktu

Ingatan itu masih ada. Meskipun sudah 10 tahun berlalu. Siang hari di dalam kelas di sebuah sekolah yang terletak di tengah sawah, bu Yuli mengajarkan kami suatu materi tentang asosiasi. Bu Yuli adalah guru bahasa Indonesia SMP kami waktu kelas 2. Beliau adalah salah satu guru yang terkenal di kalangan sekolah kami karena kecantikan wajahnya. Ya, orang-orang mengenalnya dari wajahnya yang cantik. (bu Yuli apa kabar? semoga Ibu baik-baik saja, terima kasih untuk pelajaran yang Ibu berikan.. :). Ohya, kembali ke pelajaran asosiasi, waktu itu bu Yuli melontarkan suatu kata kepada kami. Kamipun disuruh menyebutkan kata-kata yang berasosiasi dengannya. Kalau tidak salah ingat, beliau menyebutkan kata "pantai". Kami pun memikirkan kata apa saja yang berasosiasi dengan kata pantai. Beberapa kata terlontar membumbung di ruang kelas. Kemudian bu Yuli menanggapinya, memberikan satu patah kata sehingga sampai saat ini aku masih mengingatnya sebagai pelajaran yang tak akan lekang oleh waktu. hoho.

Memang benar, pelajaran yang satu inilah yang sampai saat ini dapat aku ingat dengan baik. Selebihnya, tidak dapat ku ingat dengan baik. Mungkin seperti itulah cara mengajar yang baik, dengan menciptakan suatu suasana partisipatif antara guru dan muridnya.

Kini, setelah sekian tahun lamanya pelajaran itu diberikan, aku akan coba untuk belajar secara mandiri. Membangun suasana interaktif pada diri ini. Di sebuah ruang yang tidak dapat di isi oleh bangku dan meja sekolah apalagi sedikit tempat kosong untuk bu Yuli berdiri membangun suasana interaktif tadi. Kontemplasi cukuplah dilakukan di benak ini. Pada satu sesi aku akan menjadi bu Yuli yang melontarkan satu kata, pada sesi lain aku akan menjadi teman-temanku yang melontarkan kata-kata yang berasosiasi dengannya dan aku berharap "bu Yuli" bisa hadir kembali untuk menerangkan apa maksud semua ini.

Baiklah, aku akan melontarkan kata "manusia". Kira-kira apa saja kata yang berasosiasi dengan kata tersebut?. Manusia, hidup, kebutuhan, keinginan, makan dan minum, rekreasi, makhluk individu, sosial, komunikasi, naluri, buang air besar dan kecil, berpikir, berperasaan, aktivitas, ekonomi, politik, industri, keamanan, pendidikan, kesehatan, kesepian, keluarga, pernikahan, motivasi, inspirasi dan sebagainya.. Ternyata banyak betul kata yang berasosiasi dengan kata manusia. Begitu komplekskah hidupnya manusia? Begitu kompleksnya manusia dan hidupnya di dunia. Mungkin kita tidak menyadarinya bahwa itu terlalu kompleks.

Pelajaran selanjutnya aku dapatkan dari aktivitasku di kampus. Di kampus ini aku dipertemukan dengan saudara seiman yang mencoba mengajakku pada penyadaran kehidupan. Ya, aku diajak untuk menyadari bagaimana kompleksitas kehidupan manusia tersebut dapat terjadi. Pelajaran diawali dengan memahami hakekat manusia seutuhnya.

Pada hakekatnya, manusia adalah makhluk istimewa yang diberikan beberapa potensi berupa potensi akal, kebutuhan jasmani dan naluri. Dari potensi inilah lahir kompleksitas manusia. Sehingga penyadaran akan kompleksitas manusia selalu diawali dengan hakekat manusia itu sendiri.

Naluri manusia meliputi, naluri bertuhan, mempertahankan diri, dan naluri mempertahankan keturunan. Kita diajarkan guru SD bagaimana sejarah perjalanan pencarian Tuhan oleh manusia. Dahulu manusia menyembah berhala, matahari, patung, gunung dan sebagainya. Manusia menyembah sesuatu yang dianggapnya lebih kuat dari dirinya. Ia merasa lemah di hadapan sesuatu yang disembahnya. Naluri ini sama dengan kita yang Muslim yang menghambakan diri kepada Allah. Allahlah Yang Maha Kuasa. Kita menyadari bahwa diri kita lemah dan menghambakan diri padaNya adalah wujud pengakuan kita bahwa Allah Yang Maha Kuasa. Ritualitas mampu menjawab tantangan yang lahir dari naluri bertuhan manusia. (Kamu bisa mengunjungi tulisanku yang lain tentang ritualitas Ritualitas, Pengakuan atas Diri yang Terbatas  :) )

Kedua adalah naluri mempertahankan diri. Naluri ini menjaga eksistensi diri manusia di dunia. Wanita yang menjinjing tas akan teriak saat tasnya dijambret orang. Rentang waktu teriakannya dan sesaat penjambret beraksi mengambil tas yang berisi barang berharga seorang wanita begitu dekat. Wanita tadi tidak perlu berpikir matang-matang untuk menyadari bahwa dirinya sedang dijambret. Saat itulah naluri mempertahankan diri memantik teriakannya. Kita akan menemukan banyak contoh lain di kehidupan ini bagaimana seorang manusia mempertahankan dirinya dengan naluri ini. Seorang politikus yang mempertahankan gagasannya saat berdebat walaupun itu sudah dibuktikan kesalahannya adalah contoh lainnya.

Ketiga adalah naluri mempertahankan keturunan. Seorang laki-laki akan tertarik pada seorang perempuan. Ketertarikan dapat berupa pemendaman perasaan hingga perilaku menyimpang. Kita, orang tua kita, kakek dan nenek kita, buyut kita akan mengalami hal yang sama, tertarik pada lawan jenis.

Potensi lain yang diberikan Allah pada kita adalah adalah kebutuhan jasmani yang berupa kebutuhan akan makan, minum, tidur, dan buang air. Jika tidak dipenuhi, kebutuhan ini dapat menimbulkan kerusakan pada manusia hingga kematian. kebutuhan ini wajib dipenuhi. Dapat dibayangkan, bagaimana jadinya kita tidak makan untuk beberapa hari. Pada hari kesekian kita tidak makan kita akan mengalami kematian.

Permasalahan kehidupan manusia terletak pada bagaimana pemenuhan kebutuhan jasmani dan nalurinya. Kita akan melihat itu pada pemikiran buah karya para pemikir ataupun filsuf. Namun, tulisan ini dicukupkan pada potensi manusia ini tidak sampai pada solusinya. Karena itu pembahasan yang lain dan dibutuhkan pembahasan lain untuk melengkapinya.

Ada yang menarik dari itu semua, bahwa ketiga potensi tersebut saling berkaitan. Kebutuhan jasmani dan naluri adalah sesuatu yang perlu dipenuhi, diatur dan dikenalikan. Di sinilah letak akal pikiran manusia. Allah memberikan akal pikiran agar kita dapat memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri sesuai dengan keridhaanNya. Seperti apa pemenuhan naluri mempunyai keturunan yang diridhaiNya, di sinilah peran akal bekerja....



Mungkinkah Informasi Sebelumnya Berasal dari Akal Manusia?

"Mungkinkah informasi sebelumnya berasal dari akal manusia?"

Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita telusuri terlebih dahulu seperti apa itu informasi sebelumnya dan akal manusia. Pertama, informasi sebelumnya merupakan salah satu komponen yang berlangsung dalam proses berpikir. Informasi sebelumnya tidak inheren di dalam fakta. Sebab, fakta bukanlah sumber informasi sebelumnya. Fakta merupakan objek penimpaan informasi sebelumnya. Orang Inggris akan menyebut "blue" dan orang Indonesia akan menyebut "biru" untuk satu fakta yang sama berupa fakta yang berwarna yang orang Inggris menyebutnya "blue" dan orang Indonesia menyebutnya "biru". "Blue" dan "biru" adalah dua informasi sebelumnya yang berbeda namun keduanya berkorespondensi dengan satu fakta yang sama. Maka dapat dipastikan bahwa informasi sebelumnya tidak inheren di dalam fakta. 

Informasi sebelumnya berasal dari luar fakta. Wahyu merupakan informasi sebelumnya yang berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang berarti juga dari luar fakta. "Blue" dan "biru" juga bukan dari fakta melainkan dari Orang Inggris dan Indonesia.

Kedua, akal merupakan khasiat atas otak manusia. Khasiat tajam inheren di dalam pisau sehingga dapat digunakan untuk membelah benda-benda yang memungkinkan. Khasiat tajam pada pisau memungkinkannya mempunyai fungsi membelah benda-benda yang memungkinkan. Khasiat akal pada otak memungkinkan manusia berpikir atas apa-apa yang memungkinkan. Hasil berfungsinya khasiat pisau adalah terbelahnya benda-benda, sedangkan hasil berfungsinya khasiat otak adalah pemikiran. Sehingga tersampaikannya pemikiran dari seseorang menandakan bahwa dia telah berpikir. Manusia mewujudkan pemikiran dalam bentuk bahasa, tanda, simbol, dan sebagainya. Sehingga pemikiran tidak lagi abstrak sebagaimana pemikiran tersimpan di dalam benak manusia.

Pertanyaannya ketika orang Inggris berhasil menyebut "blue" atas suatu fakta yang berwarna, itu pemikiran atau informasi sebelumnya? Ini hanyalah persoalan relativistik. Bagi orang Indonesia yang biasa menyebut "biru" untuk suatu fakta yang berwarna dan tidak menyebut dengan sebutan lainnya, ketika mendengar orang Inggris menyebut "blue"  akan menjadi informasi sebelumnya bagi orang Indonesia tersebut. Akan tetapi, bagi orang Inggris yang sudah terbiasa menyebutnya dengan "blue" itu adalah pemikiran yang diadopsinya. Akal orang Inggris tadi mampu menghasilkan pemikiran sehingga menyebutnya dengan "blue" yang bagi orang Indonesia tadi "blue" adalah informasi sebelumnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa akal manusia memungkinkan sebagai sumber informasi sebelumnya. Namun, dengan catatan informasi sebelumnya tadi tidak digunakan untuk dirinya sendiri dalam berpikir, akan tetapi boleh digunakan orang lain dalam berpikir. Sebab, bagaimanapun juga orang Inggris tadi menerima informasi sebelumnya berupa "blue" dari orang Inggris yang lainnya juga. Tanpa informasi sebelumnya dari orang Inggris lainnya, ia tidak dapat berpikir. Kesimpulannya, akal manusia tidak bisa menghasilkan informasi sebelumnya untuk dirinya sendiri akan tetapi bisa untuk orang lain.





Spiritualitas, Wujud Pengakuan atas Diri yang Terbatas

Beberapa hari lalu aku mendapat kiriman pertanyaan seorang teman lewat sms. Seperti ini bunyinya "tom, mengapa manusia harus hidup di dunia?". Aku bingung. Butuh sehari semalam memecah kebingungan itu. Akhirpun aku jawab sekenanya, "...tujuan penciptaan manusia tidak lain untuk memakmurkan dunia dan menjadi hambaNya, untuk bisa memakmurkan dunia dan menjadi hambaNya, manusia harus hidup di dunia."

Manusia dengan beragam latar belakang suku, bangsa, minat, keunikan, dan kemampuannya tercipta untuk memakmurkan dunia. Dari sanalah kehidupan dunia terangkai. Kehidupan aku mengartikannya sebagai apa-apa yang terkait dengan hidupnya manusia. Ekonomi, Sosial, Budaya, Politik, Pendidikan, Industri, Sains dan Teknologi, manusia itu sendiri dan lain-lainnya adalah kehidupan dunia. Dengan beragamnya manusia, kehidupan bisa terangkai seperti sekarang, cenderung seimbang dan berkelanjutan. Sulit dibayangkan, seandainya kita tidak mempunyai perbedaan dengan orang-orang di sekitar kita. Semua orang di dunia sama. Aku, kamu, dia, dan mereka semua di dunia mempunyai satu minat, satu keunikan dan satu kemampuan yang sama. Apa yang akan terjadi? Sulit dibayangkan, manusia sudah terbiasa dengan keseimbangan dan keberlanjutan kehidupan dunia dengan beragamnya manusia.

Untuk menjalankan tugasnya masing-masing, manusia diberikan bekal yang sama yaitu akal, kebutuhan jasmani, dan naluri meskipun dengan kadar berbeda-beda. Dari sanalah terbentuk kemampuan, minat dan keunikan pada diri manusia.

Apabila kita amati, wujud dari hidupnya manusia memakmurkan dunia adalah aktivitas manusia itu sendiri. Aktivitas manusia berkaitan dengan entitas ada dan waktu. Dari sini kita perlu memetakan entitas ada dan waktu, dan hubungan diantara keduanya.

Entitas ada terdiri atas ada, akan ada, pernah ada, dan tidak ada. Waktu berupa sekarang, masa depan, dan masa lalu. Ada terkait dengan sekarang, akan ada dan masa depan berkaitan, pernah ada berkaitan dengan masa lalu, sedangkan tidak (pernah) ada tidak berkaitan dengan wujud waktu manapun.

Aktivitas seseorang terkait dengan apa yang dipikirkan sebelumnya (meskipun kadang tidak demikian, misalnya gerak reflek manusia). Hal ini mempunyai arti bahwa untuk dapat melakukan aktivitas, seseorang perlu berpikir. Berpikir sebelum beraktivitas, menjadikan aktivitas mempunyai kejelasan arah. Seseorang yang senantiasa menggunakan akal pikirannya, akan terlihat kejelasan arah hidupnya.

Memang, akal mempunyai kemampuan yang dapat digunakan untuk berpikir. Akan tetapi, akal mempunyai keterbatasan. Akal dapat digunakan untuk berpikir mengenai apa yang ada sekarang. Pun demikian untuk yang pernah ada pada masa lalu. Melalui kemampuan untuk membayangkannya, apa yang pernah ada dapat dipikirkan. Akan tetapi, bagaimana untuk yang akan (belum) ada yaitu pada rentang waktu masa depan? Misalnya, apa jawaban kita atas pertanyaan, apakah besok matahari terbit dari timur? kita akan menjawabnya "ya, besok matahari akan terbit dari timur". Kita memberikan jawaban seperti itu karena memang matahari selama ini selalu terbit dari timur. Oleh manusia, keteraturan alam tersebut dijadikan objek penempaan salah satu metode berpikir yang biasa dikenal dengan metode ilmiah. Namun, dapatkah kita memasikan bahwa besok matahari akan terbit dari timur? tidak bisa, kita tidak dapat memastikan apa yang akan ada pada masa depan.

Jadi, kita tidak dapat memastikan apa yang akan ada pada masa depan, meskipun kita dapat mengetahuinya. Artinya, pengetahuan kita atas apa yang akan ada pada masa depan tidak pasti. Tidak hanya matahari yang akan terbit dari timur yang tidak bisa kita pastikan. Semuanya terlingkup di dalam entitas yang akan ada pada masa depan. Hidup, mati, jodoh, ridzki, karir, jawaban dari seseorang yang kita tunggu-tunggu, dan sebagainya tidak dapat kita ketahui secara pasti.

Spiritualitas menawarkan solusi atas keterbatasan akal tersebut. Spiritualitas berasal dari Allah Yang Maha Kuasa, yang menciptakan manusia dan akalnya. Hanya Allahlah yang menguasai masa depan. Allah tahu apa yang akan ada pada masa depan. Allah memerintahkan kita untuk menjadi hambaNya. Hamba yang patuh dan taat atas perintah dan laranganNya. Spiritualitas kita akan tumbuh seiring pengakuan diri kita yang terbatas dihadapanNya.

Wednesday, 7 November 2012

Permasalahan dalam Berpikir

Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menganugerahkan kita potensi akal. Akal digunakan untuk berpikir. Berpikir menjadi suatu keniscayaan bagi kita. Kita menjalani kehidupan di dunia dengan serangkaian berpikir dan berbuat. Saat kita sendiri atau bersama dengan seorang teman, kerabat, relasi kerja dan yang lainnya senantiasa kita lakukan aktivitas berpikir. Terkadang, berpikir menjadi kunci seperti apa perbuatan yang akan kita lakukan terhadap sesuatu. Untuk itulah berpikir menjadi penting. Berpikir mempengaruhi perbuatan seseorang terhadap sesuatu.

Sebelum, kemana-mana ada baiknya kita definisikan terlebih dahulu apa itu berpikir. Supaya tidak ada perbedaan persepsi tentang berpikir itu sendiri :) . Sebagaimana diuraikan sebelumnya, dalam hal ini aku mengadopsi pandangan an-Nabhani untuk menjawaban apa itu berpikir. Uraiannya bisa dilihat di sini http://tommyajinugroho.blogspot.com/2012/11/apa-itu-berpikir.html. Jadi, berpikir adalah aktivitas alat indera menyerap fakta, kemudian diasosiasikan dengan informasi sebelumnya untuk ditafsirkan hasilnya oleh akal. Hasil akhirnya adalah pemikiran. Pemikiran dapat diartikan sebagai status sebuah fakta, atau gambaran tentang fakta.

Mari kita bayangkan bagaimana proses berpikir itu berlangsung. Pernahkah kita membayangkan bahwa dahulu kita pernah berpikir tentang siapa ibu kita? Ya, ibulah guru pertama kita di dunia yang memperkenalkan bagaimana aktivitas berpikir dapat kita lakukan. Ibu memandangi kita kecil yang tidak berdaya dengan penuh kasih sayangnya. Ibu mengucapkan kata-kata sederhana yang memantik potensi keingintahuan kita.

"Ini siapa?" "ini ibu".

Begitulah guru pertama mengajari kita berpikir. Hingga akhirnya kita selalu mengenal siapa ibu kita. Ya, ibu yang sedang memperkenalkan dirinya adalah fakta. Saat itu, beliau sedang memperkenalkan dirinya sebagai fakta. Kita dilatih untuk menggunakan indera penglihatan. Ibu menarik perhatian dengan cara memandangi mata kita dengan penuh kasih sayang. Sehingga kita juga memandanginya dan saat itulah kita sedang berlatih menggunakan indera penglihatan kita. Begitulah cara ibu melatih kita menggunakan indera penglihatan kita. Betapa hebatnya ibu, guru pertama kita di dunia. :)

Selain itu, ibu juga melatih kita bagaimana menggunakan indera pendengaran kita. Melalui ucapannya yang sederhana, kita diajarkan bagaimana indera pendengaran bisa mendengarkan kata-kata yang diucapkannya. Itulah saat dimana kita sedang dilatih untuk menggunakan alat-alat indera.

Tidak sampai di situ, ibu juga melatih kita memberdayakan potensi akal. Mengajukan pertanyaan "ini siapa?" sesaat setelah kita berhasil memandanginya adalah upayanya. Pertanyaan tersebut kita serap dengan indera pendengaran, fakta berupa ibu tadi juga kita serap yaitu dengan indera penglihatan, keduanya disampaikan ke otak, dan saat itulah akal kita sedang dilatih untuk berpikir. Berikutnya, kita akan mencari jawaban atas pertanyaan ibu. Jawaban didapat dengan cara berpikir tadi. Beberapa komponen berpikir sudah kita penuhi sehingga kita akan bisa berpikir. Fakta, alat indera, dan akal adalah komponen yang sudah kita penuhi. Kita membutuhkan satu komponen yang melengkapinya sehingga kita dapat berpikir. Untuk itulah ibu mengucapkan "ini ibu". Saat itulah ibu memberikan informasi sebelumnya melalui ucapannya. Sehingga akal kita dapat mengasosiasikan fakta yang terserap tadi dengan informasi sebelumnya dan kita dapat menemukan jawaban atas pertanyaan ibu. Tanpa informasi sebelumnya berupa "ini ibu" kita tidak bisa berpikir.

Seperti itulah proses berpikir berlangsung. Setiap hari kita menjalani serangaian proses berpikir yang secara mendasar sudah diajarkan oleh ibu kita.

Dalam perkembanganya, aktivitas berpikir menjadi semakin rumit. Komponen berpikir yang secara sederhana berupa fakta, alat indera, akal, dan informasi sebelumnya mulai tergantikan. Tidak semua komponen yang tergantikan, hanya sebagian saja. Terkadang kita tidak menyadari akan hal itu. Padahal itu menyimpan suatu masalah.

Sebelum diuraikan apa permasalahannya, ada baiknnya kita telusuri mengapa hal itu dikatakan sebagai masalah. Di atas sudah disampaikan bahwa hasil akhir berpikir adalah pemikiran, yaitu status atas fakta. Sebagai manusia selain condong pada kebaikan, kita juga condong pada kebenaran. Benar berarti sesuai dengan fakta. Artinya, kita menganggap pemikiran yang kita hasilkan sesuai dengan fakta. Saat kita menganggap benar "itu ibu" berarti saat itu pula kita menganggap pemikiran "ini ibu" sesauai dengan fakta. Sehingga disimpulkan bahwa permasalahan seputar pemikiran berupa status benar tidaknya pemikiran tersebut.

Dewasa ini, dengan perkembangan teknologinya, aktivitas berpikir kita mampu menembus batas ruang dan waktu. Kita bisa memikirkan seperti apa itu gunung Fuji, sebagaimana kita memikirkan siapa yang layak kita sebut sebagai ibu saat kita kecil dahulu. Padahal keduanya berbeda, kita menemukan fakta berupa ibu secara langsung. Tidak halnya dengan gunung Fuji yang tidak pernah kita indera secara langsung. Namun, kita dapat memikirkan keduanya (hal ini diakui oleh masyarakat umum bahwa kita juga berpikir walaupun tidak mengindera fakta secara langsung). Mengapa? itu tidak lain karena masyarakat umum sudah mengakui bahwa fakta dapat diwakilkan dengan simbol, gambar, video, tanda dan sebagaianya. Yaitu, gunung Fuji tadi kita wakilkan dengan video atau foto gunung Fuji. Inilah salah satu hasil peradaban manusia sekarang, mengakui pengganti fakta sebagai fakta yang sesungguhnya.

Permasalahan tersebut berpangkal dari keberpihakan kita akan kebenaran, yaitu, kesesuaian pemikiran akhir dengan fakta yang sesungguhnya. Masalah timbul karena kita menyangsikan kebenaran suatu pemikiran. Untuk itu kita akan melakukan pengujian apakah pemikiran tersebut benar.

Semakin bertingkat penggantian fakta, semakin bertingkat pula pengujian kebenaran pemikiran terhadapnya. Misalnya untuk kasus memikirkan gunung Fuji tadi. Sebelum menguji apakah benar itu gunung Fuji, kita akan menguji apakah foto tersebut benar-benar menggantikan gunung Fuji yang merupakan fakta sesungguhnya. Demikianlah seputar permasalahan dalam berpikir. Dalam kehidupan nyata, sesungguhnya kita akan menemukan permasalahan yang lebih rumit daripada memikirkan foto gunung Fuji. Hingga terkadang kita terpeleset dalam kestidakbenaran berpikir. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'aala senantiasa memberikan kekuatan akal dan kejernihan pikir, sehingga kita akan terhindar dari ketidakbenaran dalam aktivitas berpikir.

Bersambung... :)

Tuesday, 6 November 2012

Apa Itu Berpikir

Apa itu berpikir?

Sebuah pertanyaan menarik untuk diajukan. Menariknya, untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu melakukan suatu aktivitas yang biasa disebut dengan berpikir itu sendiri. Pertanyaan ini tak ubahnya menyentil kita dengan apa yang sedang kita lakukan dengan pertanyaan yang diajukan dan dicarinya jawaban. Seberapa lama kita mencari jawaban selama itu pula kita sedang melakukan apa yang kita cari.

Penelusuran kita akan jawaban pertanyaan tersebut tidak bisa kita lepaskan dari deretan kata yang membentuk tulisan ini. Untuk mendapatkan jawaban apa itu berpikir kita perlu mengaitkan pertanyaan tersebut dengan apa yang sedang kita lakukan dengan tulisan ini. Kita perlu menurunkan apa yang kita lakukan sekarang dengan tulisan ini. Akal kita bekerja setelah mata (salah satu panca indra) melihat tulisan. Tanpa keduanya kita tidak bisa memikirkan jawaban pertanyaan tersebut.

Pertanyaannya, apakah itu yang namanya berpikir? Sekarang kita misalkan saja, huruf di tulisan ini kita ganti dengan huruf yang tidak kita mengerti sebelumnya. Misalnya saja, huruf Kanji. Tulisan dengan huruf latin ini adalah lama dan yang baru adalah tulisan dengan huruf Kanji. Semua term dan maknanya di tulisan yang lama dan yang baru adalah sama. Masihkah kita dapat memikirkannya? Tidak. Selama tidak mempunyai informasi sebelumnya tentang term dan maknanya yang ada di tulisan berhufur Kanji, kita tidak dapat memikirkannya. Sampai di sini disimpulkan bahwa untuk bisa berpikir kita perlu informasi sebelumnya. Yaitu, term dan maknannya dalam huruf Kanji. Sehingga kita simpulkan bahwa dalam berpikir terdapat komponen-komponen yang menunjang keberlangsungannya. Yaitu berupa alat indera, akal, dan informasi sebelumnya..

Lagi-lagi kita tinjau ulang, apakah hanya ketiga komponen tersebut yang membangun komponen berpikir?. Nyatanya hasil kerja alat indera ada dengan adanya sesuatu yang lain selain alat indera itu sendiri. Memang, keberadaan alat indra tidak bergantung pada sesuatu yang lain tersebut. Jadi, untuk apa kita sertakan sesuatu yang lain tersebut?. Hal ini karena yang sedang kita bahas bukan keberadaan alat indera, melainkan hasil yang diperoleh dari bekerjanya alat indera. Adanya hasil tersebut karena alat indera bekerja pada objek. Jadi sesuatu yang lain tersebut adalah objek atau biasa disebut juga dengan fakta.

Jadi, komponen yang turut membangun aktivitas berpikir adalah fakta, alat indera, akal, dan informasi sebelumnya. fakta didefinisikan dengan apa-apa yang ada dan dapat diserap oleh alat indera. Alat indera berupa indera penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, dan pengecap. Sedangkan akal merupakan khasiat yang diberikan pada ota manusia. Informasi sebelumnya adalah informasi yang ada sebelum manusia berpikir. Jadi, berpikir adalah aktivitas alat indera menyerap fakta, kemudian diasosiasikan dengan informasi sebelumnya untuk ditafsirkan hasilnya oleh akal.

Kita Bukanlah "Buruh"

Pecahnya Gelas Kaca

Sebuah gelas kaca diletakkan di atas meja. Meja terletak di atas lantai. Panjang kaki meja tidak lebih dari 75 cm. Secara perlahan, gelas tadi disentuh dan digeser ke tepi hingga akhirnya alas gelas kaca tidak bersentuhan lagi dengan meja. Gelas terjatuh menyentuh lantai dan pecah “pyarrr..”. Sekarang, gelas tak berbentuk seperti semula. Gelas berubah menjadi pecahan gelas.

Ada satu pertanyaan yang layak diajukan dalam peristiwa ini. “Dapatkah peristiwa tersebut berbalik sehingga pecahan gelas tadi berubah menjadi gelas kaca seperti semula?”. Maksud pertanyaan ini adalah pecahan gelas kaca tersebut bersatu sesuai posisi awalnya sesaat sebelum menyentuh lantai. Kemudian naik ke atas menyentuh meja dan bergeser ke posisi semula sebelum tersentuh sama sekali.

Kita semua tahu jawabannya, bahwa peristiwa tersebut tidak dapat berbalik. Ya, pecahan gelas tadi tidak bisa berbalik menjadi gelas kaca seutuhnya setelah berubah bentuk menjadi pecahan gelas. Pertanyaannya, mengapa bisa seperti itu?

Dalam tinjauan Fisika, peristiwa tersebut adalah peristiwa alam. Alam bekerja sesuai aturan tertentu. Aturan ini (peristiwa gelas kaca pecah) berhasil dibukukan dalam Fisika yang kemudian kita kenal dengan hukum kedua Termodinamika. Hukum Kedua Termodinamika ini menjelaskan bahwa semua sistem (Fisika.red) yang dibiarkan tanpa gangguan akan rusak, terurai, dan tak beraturan sejalan dengan waktu.

Jadi, dalam peristiwa pecahnya gelas tadi, pembiaran terjadi pada saat gelas terjatuh bebas hingga membentur lantai. Hal ini tidak bisa dikatakan, bukankah justru karena adanya gangguan (bergesernya gelas) yang menyebabkan gelas pecah?. Sebab, gangguan hanya terjadi saat tersentuh dan bergesernya gelas hingga gelas tidak bersentuhan lagi dengan meja. Seandainya ganguan ada saat gelas jatuh bebas, gelas tidak jadi pecah. Karena pada akhirnya gelas pecah, berarti terjadi pembiaran saat gelas terjatuh bebas.

Kerusakan pada sistem, terjadi sejalan dengan waktu. Inilah alasan mengapa tidak bisa terjadi peristiwa sebaliknya, pecahan gelas di lantai menjadi gelas kaca seutuhnya di atas meja. Sebab, peristiwa sebaliknya tersebut tidak sejalan dengan waktu.

Peristiwa di atas adalah salah satu contoh peristiwa alam yang dijelaskan oleh hukum kedua Termodinamika. Ada banyak peristiwa lain yang dapat dijelaskannya, sebab ini merupakan hukum utama dari semua ilmu pengetahuan. Itu merupakan pengakuan Albert Einstein. Bahkan, astronom Sir Arthur Stanley Eddington juga menyatakan bahwa hukum kedua Termodinamika ini adalah hukum metafisika tertinggi di jagat raya ini.1

Melalui hukum fisika ini, kita tahu bahwa sistem atau materi-materi di alam semesta akan berubah menjadi materi yang rusak, tidak teratur, dan terurai jika dibiarkan sepanjang waktu. Contoh lainnya adalah mobil yang kita parkir di padang pasir. Setahun kemudian kita akan lihat kaca mobil pecah, bannya kempes, bampernya berkarat, dan sebagainya. Peristiwa tersebut tidak mungkin berbalik berlawanan arah panah waktu.
Hukum ini juga berlaku untuk makhluk hidup. Termasuk diri kita ini.

Karl Marx
“Manusia yang membuat sejarahnya itu tidak menyadari bahwa dirinya adalah subjek sejarah” (Hardiman, 2009)2.

Di dalam bukunya, Hardiman mengungkapkan pendapat Habermas mengenai pemikiran dialektis materialismenya Karl Marx. Bagi Karl Marx, buruh, alat-alat produksi, dan pemilik modal menarik untuk diamati. Buruh bekerja dengan alat-alat produksi untuk mengubah bahan baku menjadi komoditas yang mempunyai harga. Kerja buruh ditukar dengan upah. Upah digunakan buruh untuk mempertahankan kehidupannya. Adapun harga komoditas yang telah dihasilkan buruh ditetapkan oleh pemilik modal (bukan buruh tentunya). Penetapan harga inilah menjadikan pemilik modal meraih keuntungan melalui penjualan komoditas yang dihasilkan buruh. Oleh sebab itu, Karl Marx menganggap kerja buruh sebagai sumber “nilai lebih” yang dinikmati pemilik modal.

Kita Bukan Buruh
Karl Marx membangun ideologinya melalui pendekatan dua kelas kehidupan manusia yang mendasar. Mereka adalah kelas pemilik modal dan pekerja (buruh). Pemikiran-pemikiran yang muncul dari ideologinya berkaitan dengan kedua kelas tersebut. Selanjutnya, pemikiran-pemikiran tersebut digunakan untuk mengatur kehidupan manusia.

Nyatanya, kehidupan manusia di dunia ini tidak hanya terbagi menjadi dua kelas tadi. Ada kelas-kelas lain yang tidak masuk ke dalam dua kelas tersebut. Anak kecil yang tidak bekerja, pedagang, pejabat pemerintah, penganggur, guru, dosen, pelajar, bahkan mahasiswa adalah contohnya. Diperlukan pendekatan lain yang lebih universal. Sehingga dengan pendekatan itu, tidak ada satupun peran manusia yang tidak terlingkupinya. Selain itu, pendekatan tersebut juga semestinya bersifat mendasar yang tidak ditemui dasar yang lainnya. Pendekatan tersebut berupa “aku”.

Dalam penulisan kata “aku” digunakan tanda kutip untuk menegaskan bahwa “aku” yang dimaksud bukan hanya diri penulis melainkan juga seluruh manusia yang ada. Selanjutnya kita akan bedah kata “aku”, apa itu “aku”?. Untuk membedahnya, kita gunakan dua pendekatan alamiah yang sangat terkait dengan keberadaan “aku”. Keberadaan dua hal ilmiah tersebut mendeskripsikan keberadaan “aku” di dunia. Artinya, tanpa penyertaan kedua hal alamiah tersebut pada diri “aku”, berarti “aku” tidak ada. Kedua hal alamiah tersebut adalah ruang (tempat) dan waktu.

Sekarang kita gunakan pendekatan ruang dan waktu untuk menelusuri keberadaan “aku” di dunia. Penelusuran tersebut mengharuskan penggunaan alat indera untuk menangkap fakta yang ada pada “aku”. Fakta yang terdekat dengan alat indera “aku” adalah hidupnya “aku” sekarang ini di dunia. Sekarang “aku” ada di dunia, lantas seperti apa “aku” sebelum ada di dunia ini. Kita dapat menjawab pertanyaan tadi dengan menyatakan bahwa “aku” sekarang ada di ITB, dan sebelumnya “aku” ada di Sekolah Menengah Atas masing-masing. Konsekuensinya, jawaban tersebut menimbulkan pertanyaan lanjutan, lantas sebelum ada di SMA “aku” darimana?. Pertanyaan demi pertanyaan akan muncul seiring dengan masih bisanya awal dianggap akhir akhir yang semula awal untuk menemukan apa yang lebih mengawalinya. Pertanyaan ini sesuai dengan kaidah ketidakazalian manusia. Sebagaimana diungkapkan oleh Ghanim Abduh, adanya akhir mengharuskan adanya permulaan3

Pertanyaan selanjutnya adalah hendak kemana “aku” setelah ada di dunia?. Kedua pertanyaan tersebut semestinya kita jawab sebelum kita kemukakan untuk apa “aku” ada di dunia ini?.

Sesuai dengan urutan tersebut, pertanyaan-pertanyaan kita jawab dan akan kita dapatkan jawabannya. Jawaban atas pertanyaan terakhir kita gunakan sebagai landasan dasar mendeskripsikan keberadaan kita di dunia. Hal ini berlaku universal kapan pun dan di mana pun kita berada. Kita sekarang di dalam gedung kuliah, di gubuk-gubuk persawahan, atau pun istana negara. Kita harus menjawabnya, karena itu adalah hal yang mendasar dalam kehidupan kita.

Keberadaan kita di dunia tidak bisa lepas dari alam semesta. Misalnya, kita sedang membaca koran. Koran bagian dari alam semesta. Kita perlu memegangnya secara tepat untuk memastikan koran tidak jatuh ke lantai saat kita baca. Karena kita tahu bahwa koran juga materi yang tidak bisa lepas dari pengaruh gravitasi bumi. Selain itu, koran yang kita baca terkait dengan keberlangsungan waktu saat koran diterbitkan. Kita tahu bahwa semua koran pasti disertai dengan tanggal terbit di bagian kiri atau kanan atas koran tersebut. Dari satu contoh aktivitas kita ini, nyatalah bahwa keberadaan kita di dunia ini tidak bisa lepas dari alam semesta.

Habermas membagi praksis manusia menjadi dua yaitu tindakan instrumental dan tindakan komunikatif. Tindakan instrumental adalah tindakan dasar manusia terhadap kenyataan non-sosial (alam). Sedangkan tindakan komunikatif berkaitan dengan tindakan strategis yang dilakukan terhadap kenyataan sosial4. Artinya, ketika kita membaca koran termasuk bagian dari kegiatan instrumental. Sebab, koran yang menjadi bagian dari alam tadi sedang kita taklukkan dari pengaruh gravitasi bumi tadi. Sedangkan tindakan komunikatifnya bisa berupa kita menceritakan kembali isi koran yang telah kita baca kepada teman-teman kita.

Rentetan tindakan yang kita lakukan baik tindakan instrumental maupun komunikatif dalam kerangka waktu tertentu membentuk sejarah. Untuk itulah Habermas melalui Hardiman menyatakan pemikiran Karl Marx bahwa manusia yang membuat sejarahnya tidak menyadari bahwa dirinyalah subjek sejarah. Manusia yang dimaksud Marx adalah kaum buruh, pekerja. Sedangkan sejarah yang dimaksud adalah sejarah perguliran sejarah Kapitalisme dunia.

Baik kemarin maupun sekarang, kita selalu menjadi bagian dari subjek sejarah. Sejarah mengungkapkan peradaban manusia yang dicetaknya melalui tindakan-tindakan. Terhadap peradaban yang ada sekarang, kita mempunyai dua pilihan sikap. Kita akan tinggal diam untuk memperlama umur peradaban atau bergerak melawan mempersingkat umur peradaban sekarang. Itu pilihan kita. Kita dapat memilihnya setelah menemukan jawaban atas pertanyaan mendasar mengenai keberadaan kita di dunia saat ini. Agar, yang kita pilih benar-benar kita sadari hakikatnya. Sehingga, kita tidak akan diasamakan dengan kaum buruh yang tidak menyadari keberadaannya di dunia turut melanggengkan sejarah Kapitalisme dunia menurut Karl Marx. Kesadaran kita akan sempurna dengan penyertaan ketidakazalian alam semesta. Bahwa menurut Hukum Kedua Termodinamika, waktu tidak mungkin berbalik arah menuju masa lalu. Setiap saat kita mengalami kurangnya kesempatan untuk tetap berada di dunia mencetak peradaban. Rusaknya, mobil yang dibiarkan di padang pasir, hilangnya energi dari batu batere yang kita gunakan menghidupkan komputer, hilangnya kemampuan mendengar telinga, melemahnya ketajaman penglihatan mata, tersendatnya suara yang keluar dari mulut, bahkan melemahnya kelincahan tangan untuk menari di atas keyboard komputer kita adalah suatu keniscayaan adanya. Entah kita akan mengalami atau tidak itu sesuatu yang lain. Jelasnya, itu bisa saja terjadi pada diri kita.

Referensi

[1] id.harunyahya.com/id book/3015/DARWINISME_TERBANTAHKAN/chapter/10479
[2] Hardiman, Budi, Menuju Masyarakat Komunikatif, Yogyakarta ,Kanisius, 2009
[3] Abduh, Ghanim, Kritik Atas Sosialisme Marxisme, Bangil, Al-Izzah,2003
[4] Hardiman, Budi, Menuju Masyarakat Komunikatif, Yogyakarta ,Kanisius, 2009

Kaitan Antara Ide, Ruang, dan Waktu

Perkembangan Ide Tidak Membutuhkan Ruang

Ide merupakan gambaran tentang objek (alam semesta). Proses mendapatkan ide adalah melalui alat indera dan akal pikiran manusia. Alat indera terhubung secara langsung dengan objek. Sedangkan akal pikiran berfungsi mengasosiasikan hasil penyerapan alat indera dengan informasi sebelumnya. Informasi sebelumnya sudah ada sebelum akal pikiran berfungsi. Sehingga dapat dihasilkan ide tentang suatu objek. Perkembangan peradaban manusia menghasilkan dunia yang semakin sempit. Manusia tidak perlu melakukan perjalanan jauh untuk bisa terhubung secara langsung dengan suatu objek yang jaraknya jauh. Manusia mengembangkan media untuk menghubungkan manusia dengan suatu objek. Adanya media tersebut memudahkan manusia menyerap suatu objek yang tidak mungkin ditemuinya secara langsung. Bahkan, media sekarang hampir-hampir menggantikan objek sesungguhnya hingga manusia tidak lagi mementingkannya. Ide dapat berkembang. Ide tersimpan di dalam benak manusia. Benak bersifat abstrak, ia tidak bisa diukur dengan besaran fisika yang biasa digunakan untuk mengukur ruang. Benak berbeda dengan ruang. Sehingga, perkembangan ide tidak membutuhkan ruang. Sampai di sini dapat disimpulkan kaitan antara ide dan ruang.

Keberadaan Materi Membutuhkan Ruang

Materi menjadi bagian dari alam semesta. Materi bersifat makhluk, yaitu keberadaannya tidak abadi. Materi mematuhi kaidah ketidakabadian makhluk yaitu adanya akhir mengharuskan adanya permulaan. Dengan kaidah tersebut, materi sangat terkait dengan waktu. Terkadang, materi diukur oleh besaran tertentu dengan menyertakan waktu sebagai parameter utamanya. Sehingga materi dapat diciptakan. Selain waktu, materi juga terkait erat dengan ruang. Bahkan, materi tidak bisa dilepaskan dari ruang. Ruang ada untuk memposisikan materi sehingga dengan posisi tersebut materi dapat dijadikan objek. Sehingga dengan ruang, materi dapat diidera manusia. Tanpa ruang, materi tidak dapat dikenali. Kesimpulan kedua kita dapatkan di sini, bahwa materi membutuhkan ruang untuk menunjukkan jati dirinya.

Ekspansi Ide Ke Ruang Membutuhkan Materi

Materi bisa dipandang dari sudut pandang yang lain. Materi tidak hanya sebagai materi. Lebih dari itu, materi mengandung sesuatu yang lain selain dirinya. Gambaran tentang objek (materi) adalah sesuatu yang lain dari materi. Namun untuk mendapatkannya, manusia mengikutsertakan materi dalam pencariannya. Tanpa keikutsertaan materi, tentunya tidak akan didapatkan gambaran tentang materi. Sehingga materi mengandung sesuatu yang lain selain dirinya, yaitu ide. Sebab, ide merupakan gambaran tentang objek (materi). Adakalanya adanya materi mendahului ide dan terkadang pula adanya ide mendahului materi. Untuk yang pertama, biasanya dikenal dengan penemuan. Sedangkan yang kedua adalah penciptaan. Kemampuan manusia terbatas. Manusia tidak mungkin menciptakan materi baru. Kemampuan manusia terbatas pada penyusunan materi-materi yang sudah ada. Menyusun materi baru dari materi-materi yang ada membutuhkan ide. Itulah sebabnya, bisa dikatakan ide mendahului materi. Saat materi baru tersusun, ide yang tersimpan di dalam benak keluar menuju ruang. Kesimpulannya, dibutuhkan materi untuk mengekspansi ide ke dalam ruang.