Monday, 19 November 2012

Definisi Masyarakat

Setelah hakekat berpikir, pembahasan menarik lain bagiku adalah definisi masyarakat. Berpikir merupakan domain individu manusia dan masyarakat merupakan wahana bagi individu untuk mengubah dirinya menjadi makhluk sosial. Menariknya, justru dengan perubahan menjadi makhluk sosial itulah manusia mengembangkan pemikirannya. Tanpa masyarakat, seorang manusia tidak akan berkembang. Betapa tidak, manusia tidak akan bisa berpikir tanpa adanya informasi sebelumnya. Sedangkan infomasi sebelumnya tidak dapat dihasilkan oleh akalnya. Ini pernah dibahas dalam artikel Mungkinkah Informasi Sebelumnya Berasal dari Akal Manusia.

Lantas apa itu masyarakat? Sebuah gagasan yang berkembang, masyarakat adalah kumpulan individu. Kita semua tahu, fakta-fakta masyarakat itu apa. Kita dapat menunjukkan mana masyarakat dan mana yang bukan. Seandainya kita menunjuk pada masyarakat RW 1 di sebuah desa yang sedang berkerumun mengantre pembagian sembako misalnya, mereka memang kumpulan individu. Ada lebih dari satu individu yang berkumpul itu disebut sebagai masyarakat. Jadi, masyarakat adalah kumpulan individu? Belum tentu, mari kita uji dahulu.

Misalnya ada Albert dari Jerman, Trotzsky dari Rusia, Eddington dari Inggris, Macheveli dari Italy, Khan dari India, dan Hitori dari Jepang, mereka dipertemukan dalam satu tempat, yaitu kapal pesiar. Selama tiga minggu mereka berkumpul dalam satu kapal pesiar tersebut. Mereka adalah kumpulan individu sebagaimana individu-individu pada masyarakat RW 1 tadi berkumpul. Pertanyaannya, apakah mereka bisa disebut sebagai masyarakat? Tidak, ternyata kita tidak akan menyebut mereka sebagai masyarakat. Jadi, masyarakat bukanlah kumpulan individu.

Terkadang, kita sebagai manusia ada kalanya menjadi makhluk individu dan ada kalanya kita menjadi makhluk sosial. Kita berada di kamar kost sendirian, mengerjakan tugas yang diberikan dosen pembimbing maka saat itulah domain individu kita berfungsi. Namun, ketika tugas yang kita kerjakan adalah sampingan dari aktivitas berupa chatting bersama teman :P. Maka saat kita chatting itulah kita berada pada domain makhluk sosial. Kesimpulannya, domain sosial kita berfungsi saat kita berhubungan dengan manusia lain selain kita. Sedangkan saat kita berhubungan dengan selain manusia, maka saat itulah kita berada pada domain individu. Tidak hanya, catatan tugas dari dosen pembimbing, tetapi juga seluruh apa yang ada di alam semesta ini yang bukan termasuk hubungan dengan manusia.

Kalo kita lihat dengan mata kepala sendiri, kerumunan masyarakat tadi memang kumpulan individu. Itu benar. Namun, hanya kumpulan individu saja tidak akan membentuk masyarakat buktinya kumpulan individu di kapal pesiar tadi bukanlah masyarakat. Jadi, masyarakat tidak hanya kumpulan individu, tetapi ada domain sosial pada individu-individu yang berkumpul tadi. Yang sebenarnya, dia bukanlah makhuk individu lagi, melainkan makhluk sosial. Sehingga dari sini perlu ditarik term individu dan digantikan dengan manusia. Manusia adalah term umum dari term khusus makhluk individu dan sosial. Sehingga, masyarakat merupakan kumpulan manusia yang saling bersosialisasi.

Komponen yang ada pada sosialisasi kumpulan manusia mempengaruhi seperti apa bentuk masyarakat. Dalam perspektif seorang Muslim, kita bisa saja membagi masyarakat menjadi masyarakat Islam dan masyarakat bukan Islam. Ini hanyalah salah satu perspektif saja. Perspektif lain tentu ada. Misalnya masyarakat Industri dan masyarakat bukan Industri. Pada artikel sederhana ini hanya dibatasi pada perspektif seorang Muslim. Sehingga, komponen tadi akan mempengaruhi seperti apakah bentuk masyarakat, Islam atau bukan Islam. Lebih dari itu, dengan didetailkannya komponen tadi, akan didapati komponen-komponen yang mempengaruhi bentuk masyarakat.

Apa yang kita butuhkan dalam bersosialisi? Kita akan membutuhkan kesamaan bahasa. Tanpa adanya kesamaan bahasa kita tidak bisa melakukan komunikasi. Namun, hal ini akan dibantah dengan fakta ada orang yang menggunakan bahasa X dan orang lain menggunakan bahasa Y dan mereka bisa saling berkomunikasi. Yaitu satu orang yang menggunakan bahasa X dengan baik mengerti dengan baik bahasa Y dan orang lain yang menggunakan bahasa Y dengan baik juga mengerti dengan baik bahasa X. Sehingga, kesamaan bahasa harus dipersempit dengan kesamaan pemikiran dan peraturan. Mengapa? Karena, bahasa adalah wujud pemikiran. Pemikiran yang sama dapat diwujudkan dalam dua bahasa yang berbeda. Misalnya "blue" untuk orang Inggris masih satu pemikiran dengan "biru" orang Indonesia. Sebab, fakta di antara kedua bahasa tersebut sama. Lantas, kenapa harus juga dalam kesamaan peraturan. Peraturan di sini dimaksudkan pemikiran yang diterapkan. Pemikiran yang diterapkan merupakan pemikiran yang diakui oleh manusia satu dengan manusia lainnya yang dapat digunakan untuk menunjuk sebuah fakta. Pemikiran yang belum menjadi peraturan hanya berkembang pada individu-individu semata. Sehingga, dibutuhkan kesamaan pemikiran dan peraturan agar sosialisasi antar manusia tersebut bisa berlangsung. Kesimpulannya, masyarakat merupakan kumpulan manusia yang mempunyai pemikiran dan peraturan yang sama.

Tommy Aji Nugroho
Bandung, 19 November 2012 pukul 17:17

Thursday, 15 November 2012

Kontemplasi Kata "Ada"

Ono kata orang Jawa, ana kata temen-temen SMA di Pemalang, aya kata temen-temen di Bandung. Banyak orang dari berbagai latar belakang daerah bahkan mungkin hingga ke seluruh penjuru dunia mengenal dan menggunakan term yang maknanya terkandung dalam kata "ada". Term tersebut berbeda-beda bentuknya tergantung dimana dia berada. Tidak seperti term "kunduran truk" yang mungkin hanya dipakai oleh orang Jawa saja. Kamu tau makna dari "kunduran truk"? konteks kalimatnya seperti ini "bemper mobile rusak amergo kunduran truk pas macet nang jalan Nagrek" dalam bahasa Indonesia kalimat tersebut sepadan dengan "bemper mobilnya rusak karena kunduran truk saat macet di jalan Nagrek". Kunduran truk  mempunyai makna berupa akibat yang ditimbulkan saat truk bergerak mundur hingga menabrak sesuatu di belakangnya.

Term "ada" ada di mana-mana. Itu pertanda bahwa kata "ada" dan maknanya digunakan oleh banyak orang di dunia. Pertanyannya, apa yang dimaksud dengan "ada"? Ini tidak lain berupa makna yang terkandung di dalam term tersebut. Makna "ada" tidak bisa dilepaskan dari orang-orang yang menggunakannya. Orang-orang itulah yang sebenarnya mengerti makna kata "ada" sehingga menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Bisakah kita melepaskan term "ada" dalam keseharian?

Orang menggunakan term "ada" sesaat setelah berhasil menemukan sesuatu. Antara sesuatu dengan "ada" saling berkaitan erat. Penemuan secara sederhana yang dilakukan seseorang dilakukan dengan menggunakan alat inderanya. Dengan alat inderanya dan mungkin dibantu dengan kedua kaki dan tangannya, sesuatu yang tersembunyi menjadi tersingkap. Sebenarnya, adanya sesuatu tidak tergantung pada aktivitas penemuan. Sebab, dengan aktivitas penemuan tidak akan menjadikan yang tidak ada menjadi ada. Yang tidak ada menjadi ada dilakukan dengan aktivitas penciptaan bukan menemukan. Sehingga, dari sini dapat disimpulkan bahwa adanya sesuatu tidak bergantung pada alat indera kita. Alat indera berfungsi untuk menemukan. Sehingga sesuatu tersebut menjadi ada olehnya. Namun bukan berarti sesuatu tersebut menjadi ada. Yang tepat, dengan menemukan sesuatu berarti dia berhasil membuat pengakuan bahwa sesuatu itu ada. Jadi, ada menurut seseorang sama artinya dengan pengakuanya akan sesuatu.

Pengakuan tersebut berupa sesuatu tersebut terikat pada sekat-sekat ruang dan waktu. Selain itu, keterhubungan antara sesuatu dengan alat indera kita tidak ada hambatan. Sehingga sesuatu dengan alat indera kita terhubung. Sekat-sekat ruang dan waktu bekerja pada sesuatu sehingga kita dapat menjangkaunya. Namun, tidak semua sesuatu tersebut bisa kita jangkau. Yang bisa kita jangkau hanyalah sesuatu yang terikat pada sekat ruang dan waktu yang bisa kita jangkau. Artinya, antara ruang dan waktu kita dengan ruang dan waktu sesuatu dapat terhubung sehingga alat indera kita dapat menemukannya. Masa depan, sekarang dan masa lalu adalah arah panah waktu. Arah panah tersebut bergerak dari masa lalu ke masa sekarang dan masa depan. Dengan keterbatasan kita, yang bisa kita jangkau hanyalah masa sekarang. Sedangkan ruang yang bisa kita jangkau ialah ruang yang alat indera kita dapat menjangkaunya. Dengan demikian, ada menurut kita ialah sesuatu yang terikat pada masa sekarang yang menempati ruang yang dapat kita jangkau. Implikasi dari ini, dapat berupa pernyataan bahwa sesuatu pernah ada dan sekarang tidak ada.

Sekat waktu dan ruang bekerja pada sesuatu sehingga dapat kita jangkau. Sesuatu yang bisa kita jangkau ialah sesuatu yang terikat pada masa sekarang dan berada pada ruang yang dapat kita jangkau. Ini terkait dengan keterbatasan alat indera kita untuk menjangkau masa selain masa sekarang dan ruang yang dapat kita jangkau. Namun bukan berarti sesuatu tersebut tidak ada karena alat indera kita tidak bisa menjangkau sekat ruang dan waktu tersebut.

Mungkinkah kita bisa menjangkau sesuatu yang lain selain yang bisa kita jangkau dengan alat indera kita?. Yang harus kita ingat, adanya sesuatu tidak bergantung pada bagaimana alat indera kita menjangkaunya. Sebab, adanya sesuatu tersebut bergantung pada penciptaan bukan aktivitas penemuan. Sehingga, adanya sesuatu tersebut tidak semata-mata hanya dibuktikan keberadaannya dengan alat indera kita. Penjangkauan tersebut bisa dilakukan oleh orang lain. Orang lain yang juga mempunyai keterbatasan alat indera seperti kita bisa saja menjangkau sesuatu yang tidak bisa kita jangkau. Sebab, jangkauan kita dan orang lain bisa saja tidak sama. Kita dan orang lain mempunyai jangkauan alat indera yang berbeda-beda. Mungkin kita tidak bisa menjangkau masa perang 1945, namun kakek dan nenek kita mampu menjangkaunnya.

Dari sini, meskipun alat indera kita mempunyai keterbatasan, kita tetap bisa mengetahui akan adanya sesuatu yang dengan alat indera kita tidak bisa menjangkaunya. Hal ini biasa disebut dengan penuturan. Adanya penuturan oleh orang lain memungkinkan kita menjangkau sesuatu yang tidak bisa kita jangkau dengan alat indera kita. Namun bukan berarti hal ini luput dari permasalahan. Pada artikel  Permasalahan dalam Berpikir permasalahan dalam berpikir terletak pada bagaimana kebenaran hasil berpikir kita. Hal ini dapat pula diterapkan pada penuturan yang dengannya kita berpikir tentang apa yang ada pada penuturan itu.

Selain penuturan, kita juga bisa menggunakan jalan lain berupa indikasi. Indikasi bisa saja kita terima sebagai jalan menjangkau sesuatu yang tidak terjangkau oleh alat indera kita. Asalkan indikasi tersebut dapat dipastikan kebenarannya. Kita tidak pernah bertemu dengan orang tua teman kita. Karena teman kita berasal dari tempat yang tidak pernah kita jangkau sebelumnya. Akan tetapi kita bisa memastikan bahwa teman kita pasti mempunyai orang tua. Karena teman kita masuk dalam objek indikasi bahwa setiap anak pasti pernah mempunyai orang tua. Tidak ada seorang anak terlahir di dunia tanpa adanya orang tuanya.

Sesuatu yang ada yang sedang kita bahas ini ialah sesuatu yang memungkinkan alat indera kita dapat menjangkaunya. Biasanya untuk hal ini disebut dengan fakta. Jadi, fakta menjadi bagian dari sesuatu yang ada. Namun, ada tidak harus berupa fakta. Sebab, terdapat sesuatu yang dikatakan ada dan bukan fakta.

Keberadaan Tuhan, tidak terikat dengan ruang dan waktu. Sebab keterikatan sesuatu pada ruang dan waktu membatasi orang-orang yang tidak bisa menjangkaunya. Sesuatu yang terikat pada ruang dan waktu hanya dapat dibuktikan keberadaannya oleh orang yang dapat menjangkaunya. Sehingga tidak semua orang bisa membuktikan keberadaan sesuatu tersebut. Sedangkan Tuhan, keberadannya harus dibuktikan oleh semua orang yang mana setiap dari mereka mempunyai jangkauan ruang dan waktu yang berbeda-beda. Tuhan yang tidak terikat pada ruang dan waktu bukan berarti tidak ada. Tepatnya, Tuhan bukanlah fakta yang dapat dijangkau dengan alat indera manusia. Sebagaimana diuraikan di awal, dalam penelusuran makna "ada" pada tulisan ini diawali dari apa yang orang-orang sebut dengan "ada". Tuhan termasuk bagian dari apa yang orang-orang sebut dengan "ada". Tuhan itu ada. Dengan demikian, ada tidak harus dapat dijangkau dengan penemuan alat indera kita. Dengan jalan lain, keberadan Tuhan dapat kita buktikan.

Tommy Aji Nugroho
Bandung, 16 November 2012 pukul 01:15 WIB

Tidak Sedang Berpikir ?

Siang ini, hpku berdering, pertanda ada sms yang masuk

"Aslm,. kang, punteun mau nanya, kalo berimajinasi teh bisa disebut berpikir gak ya?".

aku balas sekenanya

*Wlkmslm,. imajinasi yang seperti apa ya, %&$#*^ (sensor nama :):) )?*

"Masalahnya kayak orang yang lagi gambar spongebob. Si pengarangnya menggabungkan informasi sebelumnya yang dia terima. Dia terima informasi sebelumnya bahwa bentuk spons seperti itu dan manusia seperti itu. Langsung dia gabungkan dua konsep itu lahirlah Spongebob. Nah berarti berimajinasi hanya membutuhkan otak dan informasi sebelumnya ya kang? Berarti itu bukan berpikir ya kang?".

Aku pikir ini pertanyaan kritis. Bagaimana tidak, Spongebob yang merupakan sebuah karya imajinasi manusia yang mempunyai penggemar yang tidak sedikit di seluruh dunia dikatakan bukan hasil berpikir seseorang. Jika Spongebob diklaim bukan hasil berpikir seseorang tanpa disertai penyusunan dasar argumen, aku kurang respek terhadap klaimnya. Tetapi, klaim tersebut dilandasi dasar argumen bahwa pembuat Spongebobe hanya merangkai dua informasi sebelumnya yaitu tentang spons dan manusia. Jika digabungkan, lahirlah sebuah karya yang cukup digemari oleh berbagai kalangan di seluruh penjuru dunia.

Aku pun berusaha untuk membalas sms tersebut. Ada harapan, semoga saja jawaban yang kuberikan dapat bermanfaat baginya. Aku memulainya dari yang normatif bahwa secara sederhana berpikir mempunyai komponen berupa fakta, alat indera, akal, dan informasi sebelumnya. Maksudnya, proses berpikir akan berlangsung dengan adanya keempat komponen tersebut. Jika satu saja komponen hilang, proses berpikir tidak dapat dijalankan.

Dalam perkembangannya, otak atau akal manusia mampu menampung gambaran atau penyerapan fakta. Oleh kita, hal tersebut  biasa disebut sebagai ingatan. Ingatan bukanlah fakta. Sebab, fakta dapat diukur dengan besaran-besaran Fisika. Akan tetapi tidak dengan ingatan. Ingatan tidak dapat diukur dengan besaran-besaran Fisika. Akan tetapi bukan berarti itu tidak bisa dijadikan komponen berpikir. Jika dibandingkan dengan uraian smsnya, informasi sebelumnya bentuk spons dan manusia mengandung informasi sebelumnya dan gambaran fakta spons dan manusia. Sehingga dengan demikian, seseorang pembuat Spongebob dikatakan telah berpikir? Belum tentu, mari kita buktikan.

Sebenarnya, apa yang kita butuhkan dalam berpikir? Jika dilihat dari urutan prosesnya, yang dikaitkan dengan informasi sebelumnya oleh akal adalah penyerapan fakta bukan fakta itu sendiri. Sebab, fakta tidak akan berarti apa-apa tanpa alat indera kita menyerapnya menjadi penyerapan fakta. Jadi sejatinya yang digunakan dalam proses berpikir bukanlah fakta melainkan penyerapan fakta. Pembuat Spongebob memenuhi komponen berupa inforamsi sebelumnya dan penyerapan fakta atas spons dan manusia. Dengan akalnya, keduanya dihubungkan dan memungkinkan terjadinya proses berpikir. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pembuat Spongebob sedang berpikir. Artinya ia tidak membutuhkan fakta berupa spons dan manusia. Jadi, fakta tidak dibutuhkan dalam berpikir? Tidak, selagi ada penyerapan fakta. Fakta tidak diperlukan dalam proses berpikir. Akan tetapi fakta dibutuhkan oleh alat indera agar bisa menjalankan fungsinya sehingga dihasilkan penyerapan fakta. Tanpa fakta tidak ada hasil penyerapan atasnya.

Selain itu, dengan adanya penyerapan fakta, pembuat Spongebob tidak lagi membutuhkan alat inderanya untuk berpikir. Sebab, alat indera dibutuhkan untuk menyerap fakta. Keadaannya, penyerapan fakta sudah ada. Sehingga, alat indera tidak dibutuhkan lagi, namun ia tetap bisa berpikir. Dari sini dapat disimpulkan bahwa komponen berpikir dapat diringkas manjadi tiga komponen saja, penyerapan fakta, informasi sebelumnya, dan akal. Dengan catatan, penyerapan fakta merupakan hasil berfungsinya alat indera terhadap fakta. Jika tidak ada fakta, penyerapan fakta yang dihasilkan adalah dengan cara mengada-ada. Kita biasa menyebutnya dengan kebohongan dan aktivitas terhadapnya biasa dikatakan berkhayal. Jadi, berkhayal tidak bisa dikatakan sebagai aktivitas berpikir. Berkhayal berbeda dengan berimajinasi. Karena dalam berkhayal, penyerapan fakta dan fakta tidak akan terhubung.

Hubungan penyerapan fakta dan fakta menentukan apakah proses yang berlangsung terhadapnya bisa dikatakan berpikir atau tidak. Orang yang berkhayal tidak pernah menghubungkan penyerapan fakta dengan fakta. Untuk itulah berkhayal bukan berpikir. Suatu fakta, bagaimanapun itu, akan terikat pada sekat-sekat ruang dan waktu. Hasil proses berpikir akan mengikuti sekat-sekat ruang dan waktu. Tidak bisa tidak, karena perubahan fakta terhadap ruang dan waktu sangat memungkinkan untuk terjadi. Kita akan mengabarkan pada orang tua bahwa bus yang kita tumpangi sedang berada di KM 100 tol Cipularang pada satu waktu. Akan tetapi kita tidak bisa mengabarkan informasi yang sama pada selang waktu 30 menit setelahnya dengan asumsi bus bergerak  dengan kelajuan konstan meninggalkan kota Bandung.


Tommy Aji Nugroho
Bandung, 16 November 2012 pukul 00:00 WIB

Saturday, 10 November 2012

Pelajaran yang Tak Lekang Oleh Waktu

Ingatan itu masih ada. Meskipun sudah 10 tahun berlalu. Siang hari di dalam kelas di sebuah sekolah yang terletak di tengah sawah, bu Yuli mengajarkan kami suatu materi tentang asosiasi. Bu Yuli adalah guru bahasa Indonesia SMP kami waktu kelas 2. Beliau adalah salah satu guru yang terkenal di kalangan sekolah kami karena kecantikan wajahnya. Ya, orang-orang mengenalnya dari wajahnya yang cantik. (bu Yuli apa kabar? semoga Ibu baik-baik saja, terima kasih untuk pelajaran yang Ibu berikan.. :). Ohya, kembali ke pelajaran asosiasi, waktu itu bu Yuli melontarkan suatu kata kepada kami. Kamipun disuruh menyebutkan kata-kata yang berasosiasi dengannya. Kalau tidak salah ingat, beliau menyebutkan kata "pantai". Kami pun memikirkan kata apa saja yang berasosiasi dengan kata pantai. Beberapa kata terlontar membumbung di ruang kelas. Kemudian bu Yuli menanggapinya, memberikan satu patah kata sehingga sampai saat ini aku masih mengingatnya sebagai pelajaran yang tak akan lekang oleh waktu. hoho.

Memang benar, pelajaran yang satu inilah yang sampai saat ini dapat aku ingat dengan baik. Selebihnya, tidak dapat ku ingat dengan baik. Mungkin seperti itulah cara mengajar yang baik, dengan menciptakan suatu suasana partisipatif antara guru dan muridnya.

Kini, setelah sekian tahun lamanya pelajaran itu diberikan, aku akan coba untuk belajar secara mandiri. Membangun suasana interaktif pada diri ini. Di sebuah ruang yang tidak dapat di isi oleh bangku dan meja sekolah apalagi sedikit tempat kosong untuk bu Yuli berdiri membangun suasana interaktif tadi. Kontemplasi cukuplah dilakukan di benak ini. Pada satu sesi aku akan menjadi bu Yuli yang melontarkan satu kata, pada sesi lain aku akan menjadi teman-temanku yang melontarkan kata-kata yang berasosiasi dengannya dan aku berharap "bu Yuli" bisa hadir kembali untuk menerangkan apa maksud semua ini.

Baiklah, aku akan melontarkan kata "manusia". Kira-kira apa saja kata yang berasosiasi dengan kata tersebut?. Manusia, hidup, kebutuhan, keinginan, makan dan minum, rekreasi, makhluk individu, sosial, komunikasi, naluri, buang air besar dan kecil, berpikir, berperasaan, aktivitas, ekonomi, politik, industri, keamanan, pendidikan, kesehatan, kesepian, keluarga, pernikahan, motivasi, inspirasi dan sebagainya.. Ternyata banyak betul kata yang berasosiasi dengan kata manusia. Begitu komplekskah hidupnya manusia? Begitu kompleksnya manusia dan hidupnya di dunia. Mungkin kita tidak menyadarinya bahwa itu terlalu kompleks.

Pelajaran selanjutnya aku dapatkan dari aktivitasku di kampus. Di kampus ini aku dipertemukan dengan saudara seiman yang mencoba mengajakku pada penyadaran kehidupan. Ya, aku diajak untuk menyadari bagaimana kompleksitas kehidupan manusia tersebut dapat terjadi. Pelajaran diawali dengan memahami hakekat manusia seutuhnya.

Pada hakekatnya, manusia adalah makhluk istimewa yang diberikan beberapa potensi berupa potensi akal, kebutuhan jasmani dan naluri. Dari potensi inilah lahir kompleksitas manusia. Sehingga penyadaran akan kompleksitas manusia selalu diawali dengan hakekat manusia itu sendiri.

Naluri manusia meliputi, naluri bertuhan, mempertahankan diri, dan naluri mempertahankan keturunan. Kita diajarkan guru SD bagaimana sejarah perjalanan pencarian Tuhan oleh manusia. Dahulu manusia menyembah berhala, matahari, patung, gunung dan sebagainya. Manusia menyembah sesuatu yang dianggapnya lebih kuat dari dirinya. Ia merasa lemah di hadapan sesuatu yang disembahnya. Naluri ini sama dengan kita yang Muslim yang menghambakan diri kepada Allah. Allahlah Yang Maha Kuasa. Kita menyadari bahwa diri kita lemah dan menghambakan diri padaNya adalah wujud pengakuan kita bahwa Allah Yang Maha Kuasa. Ritualitas mampu menjawab tantangan yang lahir dari naluri bertuhan manusia. (Kamu bisa mengunjungi tulisanku yang lain tentang ritualitas Ritualitas, Pengakuan atas Diri yang Terbatas  :) )

Kedua adalah naluri mempertahankan diri. Naluri ini menjaga eksistensi diri manusia di dunia. Wanita yang menjinjing tas akan teriak saat tasnya dijambret orang. Rentang waktu teriakannya dan sesaat penjambret beraksi mengambil tas yang berisi barang berharga seorang wanita begitu dekat. Wanita tadi tidak perlu berpikir matang-matang untuk menyadari bahwa dirinya sedang dijambret. Saat itulah naluri mempertahankan diri memantik teriakannya. Kita akan menemukan banyak contoh lain di kehidupan ini bagaimana seorang manusia mempertahankan dirinya dengan naluri ini. Seorang politikus yang mempertahankan gagasannya saat berdebat walaupun itu sudah dibuktikan kesalahannya adalah contoh lainnya.

Ketiga adalah naluri mempertahankan keturunan. Seorang laki-laki akan tertarik pada seorang perempuan. Ketertarikan dapat berupa pemendaman perasaan hingga perilaku menyimpang. Kita, orang tua kita, kakek dan nenek kita, buyut kita akan mengalami hal yang sama, tertarik pada lawan jenis.

Potensi lain yang diberikan Allah pada kita adalah adalah kebutuhan jasmani yang berupa kebutuhan akan makan, minum, tidur, dan buang air. Jika tidak dipenuhi, kebutuhan ini dapat menimbulkan kerusakan pada manusia hingga kematian. kebutuhan ini wajib dipenuhi. Dapat dibayangkan, bagaimana jadinya kita tidak makan untuk beberapa hari. Pada hari kesekian kita tidak makan kita akan mengalami kematian.

Permasalahan kehidupan manusia terletak pada bagaimana pemenuhan kebutuhan jasmani dan nalurinya. Kita akan melihat itu pada pemikiran buah karya para pemikir ataupun filsuf. Namun, tulisan ini dicukupkan pada potensi manusia ini tidak sampai pada solusinya. Karena itu pembahasan yang lain dan dibutuhkan pembahasan lain untuk melengkapinya.

Ada yang menarik dari itu semua, bahwa ketiga potensi tersebut saling berkaitan. Kebutuhan jasmani dan naluri adalah sesuatu yang perlu dipenuhi, diatur dan dikenalikan. Di sinilah letak akal pikiran manusia. Allah memberikan akal pikiran agar kita dapat memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri sesuai dengan keridhaanNya. Seperti apa pemenuhan naluri mempunyai keturunan yang diridhaiNya, di sinilah peran akal bekerja....



Mungkinkah Informasi Sebelumnya Berasal dari Akal Manusia?

"Mungkinkah informasi sebelumnya berasal dari akal manusia?"

Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita telusuri terlebih dahulu seperti apa itu informasi sebelumnya dan akal manusia. Pertama, informasi sebelumnya merupakan salah satu komponen yang berlangsung dalam proses berpikir. Informasi sebelumnya tidak inheren di dalam fakta. Sebab, fakta bukanlah sumber informasi sebelumnya. Fakta merupakan objek penimpaan informasi sebelumnya. Orang Inggris akan menyebut "blue" dan orang Indonesia akan menyebut "biru" untuk satu fakta yang sama berupa fakta yang berwarna yang orang Inggris menyebutnya "blue" dan orang Indonesia menyebutnya "biru". "Blue" dan "biru" adalah dua informasi sebelumnya yang berbeda namun keduanya berkorespondensi dengan satu fakta yang sama. Maka dapat dipastikan bahwa informasi sebelumnya tidak inheren di dalam fakta. 

Informasi sebelumnya berasal dari luar fakta. Wahyu merupakan informasi sebelumnya yang berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang berarti juga dari luar fakta. "Blue" dan "biru" juga bukan dari fakta melainkan dari Orang Inggris dan Indonesia.

Kedua, akal merupakan khasiat atas otak manusia. Khasiat tajam inheren di dalam pisau sehingga dapat digunakan untuk membelah benda-benda yang memungkinkan. Khasiat tajam pada pisau memungkinkannya mempunyai fungsi membelah benda-benda yang memungkinkan. Khasiat akal pada otak memungkinkan manusia berpikir atas apa-apa yang memungkinkan. Hasil berfungsinya khasiat pisau adalah terbelahnya benda-benda, sedangkan hasil berfungsinya khasiat otak adalah pemikiran. Sehingga tersampaikannya pemikiran dari seseorang menandakan bahwa dia telah berpikir. Manusia mewujudkan pemikiran dalam bentuk bahasa, tanda, simbol, dan sebagainya. Sehingga pemikiran tidak lagi abstrak sebagaimana pemikiran tersimpan di dalam benak manusia.

Pertanyaannya ketika orang Inggris berhasil menyebut "blue" atas suatu fakta yang berwarna, itu pemikiran atau informasi sebelumnya? Ini hanyalah persoalan relativistik. Bagi orang Indonesia yang biasa menyebut "biru" untuk suatu fakta yang berwarna dan tidak menyebut dengan sebutan lainnya, ketika mendengar orang Inggris menyebut "blue"  akan menjadi informasi sebelumnya bagi orang Indonesia tersebut. Akan tetapi, bagi orang Inggris yang sudah terbiasa menyebutnya dengan "blue" itu adalah pemikiran yang diadopsinya. Akal orang Inggris tadi mampu menghasilkan pemikiran sehingga menyebutnya dengan "blue" yang bagi orang Indonesia tadi "blue" adalah informasi sebelumnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa akal manusia memungkinkan sebagai sumber informasi sebelumnya. Namun, dengan catatan informasi sebelumnya tadi tidak digunakan untuk dirinya sendiri dalam berpikir, akan tetapi boleh digunakan orang lain dalam berpikir. Sebab, bagaimanapun juga orang Inggris tadi menerima informasi sebelumnya berupa "blue" dari orang Inggris yang lainnya juga. Tanpa informasi sebelumnya dari orang Inggris lainnya, ia tidak dapat berpikir. Kesimpulannya, akal manusia tidak bisa menghasilkan informasi sebelumnya untuk dirinya sendiri akan tetapi bisa untuk orang lain.





Spiritualitas, Wujud Pengakuan atas Diri yang Terbatas

Beberapa hari lalu aku mendapat kiriman pertanyaan seorang teman lewat sms. Seperti ini bunyinya "tom, mengapa manusia harus hidup di dunia?". Aku bingung. Butuh sehari semalam memecah kebingungan itu. Akhirpun aku jawab sekenanya, "...tujuan penciptaan manusia tidak lain untuk memakmurkan dunia dan menjadi hambaNya, untuk bisa memakmurkan dunia dan menjadi hambaNya, manusia harus hidup di dunia."

Manusia dengan beragam latar belakang suku, bangsa, minat, keunikan, dan kemampuannya tercipta untuk memakmurkan dunia. Dari sanalah kehidupan dunia terangkai. Kehidupan aku mengartikannya sebagai apa-apa yang terkait dengan hidupnya manusia. Ekonomi, Sosial, Budaya, Politik, Pendidikan, Industri, Sains dan Teknologi, manusia itu sendiri dan lain-lainnya adalah kehidupan dunia. Dengan beragamnya manusia, kehidupan bisa terangkai seperti sekarang, cenderung seimbang dan berkelanjutan. Sulit dibayangkan, seandainya kita tidak mempunyai perbedaan dengan orang-orang di sekitar kita. Semua orang di dunia sama. Aku, kamu, dia, dan mereka semua di dunia mempunyai satu minat, satu keunikan dan satu kemampuan yang sama. Apa yang akan terjadi? Sulit dibayangkan, manusia sudah terbiasa dengan keseimbangan dan keberlanjutan kehidupan dunia dengan beragamnya manusia.

Untuk menjalankan tugasnya masing-masing, manusia diberikan bekal yang sama yaitu akal, kebutuhan jasmani, dan naluri meskipun dengan kadar berbeda-beda. Dari sanalah terbentuk kemampuan, minat dan keunikan pada diri manusia.

Apabila kita amati, wujud dari hidupnya manusia memakmurkan dunia adalah aktivitas manusia itu sendiri. Aktivitas manusia berkaitan dengan entitas ada dan waktu. Dari sini kita perlu memetakan entitas ada dan waktu, dan hubungan diantara keduanya.

Entitas ada terdiri atas ada, akan ada, pernah ada, dan tidak ada. Waktu berupa sekarang, masa depan, dan masa lalu. Ada terkait dengan sekarang, akan ada dan masa depan berkaitan, pernah ada berkaitan dengan masa lalu, sedangkan tidak (pernah) ada tidak berkaitan dengan wujud waktu manapun.

Aktivitas seseorang terkait dengan apa yang dipikirkan sebelumnya (meskipun kadang tidak demikian, misalnya gerak reflek manusia). Hal ini mempunyai arti bahwa untuk dapat melakukan aktivitas, seseorang perlu berpikir. Berpikir sebelum beraktivitas, menjadikan aktivitas mempunyai kejelasan arah. Seseorang yang senantiasa menggunakan akal pikirannya, akan terlihat kejelasan arah hidupnya.

Memang, akal mempunyai kemampuan yang dapat digunakan untuk berpikir. Akan tetapi, akal mempunyai keterbatasan. Akal dapat digunakan untuk berpikir mengenai apa yang ada sekarang. Pun demikian untuk yang pernah ada pada masa lalu. Melalui kemampuan untuk membayangkannya, apa yang pernah ada dapat dipikirkan. Akan tetapi, bagaimana untuk yang akan (belum) ada yaitu pada rentang waktu masa depan? Misalnya, apa jawaban kita atas pertanyaan, apakah besok matahari terbit dari timur? kita akan menjawabnya "ya, besok matahari akan terbit dari timur". Kita memberikan jawaban seperti itu karena memang matahari selama ini selalu terbit dari timur. Oleh manusia, keteraturan alam tersebut dijadikan objek penempaan salah satu metode berpikir yang biasa dikenal dengan metode ilmiah. Namun, dapatkah kita memasikan bahwa besok matahari akan terbit dari timur? tidak bisa, kita tidak dapat memastikan apa yang akan ada pada masa depan.

Jadi, kita tidak dapat memastikan apa yang akan ada pada masa depan, meskipun kita dapat mengetahuinya. Artinya, pengetahuan kita atas apa yang akan ada pada masa depan tidak pasti. Tidak hanya matahari yang akan terbit dari timur yang tidak bisa kita pastikan. Semuanya terlingkup di dalam entitas yang akan ada pada masa depan. Hidup, mati, jodoh, ridzki, karir, jawaban dari seseorang yang kita tunggu-tunggu, dan sebagainya tidak dapat kita ketahui secara pasti.

Spiritualitas menawarkan solusi atas keterbatasan akal tersebut. Spiritualitas berasal dari Allah Yang Maha Kuasa, yang menciptakan manusia dan akalnya. Hanya Allahlah yang menguasai masa depan. Allah tahu apa yang akan ada pada masa depan. Allah memerintahkan kita untuk menjadi hambaNya. Hamba yang patuh dan taat atas perintah dan laranganNya. Spiritualitas kita akan tumbuh seiring pengakuan diri kita yang terbatas dihadapanNya.

Wednesday, 7 November 2012

Permasalahan dalam Berpikir

Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menganugerahkan kita potensi akal. Akal digunakan untuk berpikir. Berpikir menjadi suatu keniscayaan bagi kita. Kita menjalani kehidupan di dunia dengan serangkaian berpikir dan berbuat. Saat kita sendiri atau bersama dengan seorang teman, kerabat, relasi kerja dan yang lainnya senantiasa kita lakukan aktivitas berpikir. Terkadang, berpikir menjadi kunci seperti apa perbuatan yang akan kita lakukan terhadap sesuatu. Untuk itulah berpikir menjadi penting. Berpikir mempengaruhi perbuatan seseorang terhadap sesuatu.

Sebelum, kemana-mana ada baiknya kita definisikan terlebih dahulu apa itu berpikir. Supaya tidak ada perbedaan persepsi tentang berpikir itu sendiri :) . Sebagaimana diuraikan sebelumnya, dalam hal ini aku mengadopsi pandangan an-Nabhani untuk menjawaban apa itu berpikir. Uraiannya bisa dilihat di sini http://tommyajinugroho.blogspot.com/2012/11/apa-itu-berpikir.html. Jadi, berpikir adalah aktivitas alat indera menyerap fakta, kemudian diasosiasikan dengan informasi sebelumnya untuk ditafsirkan hasilnya oleh akal. Hasil akhirnya adalah pemikiran. Pemikiran dapat diartikan sebagai status sebuah fakta, atau gambaran tentang fakta.

Mari kita bayangkan bagaimana proses berpikir itu berlangsung. Pernahkah kita membayangkan bahwa dahulu kita pernah berpikir tentang siapa ibu kita? Ya, ibulah guru pertama kita di dunia yang memperkenalkan bagaimana aktivitas berpikir dapat kita lakukan. Ibu memandangi kita kecil yang tidak berdaya dengan penuh kasih sayangnya. Ibu mengucapkan kata-kata sederhana yang memantik potensi keingintahuan kita.

"Ini siapa?" "ini ibu".

Begitulah guru pertama mengajari kita berpikir. Hingga akhirnya kita selalu mengenal siapa ibu kita. Ya, ibu yang sedang memperkenalkan dirinya adalah fakta. Saat itu, beliau sedang memperkenalkan dirinya sebagai fakta. Kita dilatih untuk menggunakan indera penglihatan. Ibu menarik perhatian dengan cara memandangi mata kita dengan penuh kasih sayang. Sehingga kita juga memandanginya dan saat itulah kita sedang berlatih menggunakan indera penglihatan kita. Begitulah cara ibu melatih kita menggunakan indera penglihatan kita. Betapa hebatnya ibu, guru pertama kita di dunia. :)

Selain itu, ibu juga melatih kita bagaimana menggunakan indera pendengaran kita. Melalui ucapannya yang sederhana, kita diajarkan bagaimana indera pendengaran bisa mendengarkan kata-kata yang diucapkannya. Itulah saat dimana kita sedang dilatih untuk menggunakan alat-alat indera.

Tidak sampai di situ, ibu juga melatih kita memberdayakan potensi akal. Mengajukan pertanyaan "ini siapa?" sesaat setelah kita berhasil memandanginya adalah upayanya. Pertanyaan tersebut kita serap dengan indera pendengaran, fakta berupa ibu tadi juga kita serap yaitu dengan indera penglihatan, keduanya disampaikan ke otak, dan saat itulah akal kita sedang dilatih untuk berpikir. Berikutnya, kita akan mencari jawaban atas pertanyaan ibu. Jawaban didapat dengan cara berpikir tadi. Beberapa komponen berpikir sudah kita penuhi sehingga kita akan bisa berpikir. Fakta, alat indera, dan akal adalah komponen yang sudah kita penuhi. Kita membutuhkan satu komponen yang melengkapinya sehingga kita dapat berpikir. Untuk itulah ibu mengucapkan "ini ibu". Saat itulah ibu memberikan informasi sebelumnya melalui ucapannya. Sehingga akal kita dapat mengasosiasikan fakta yang terserap tadi dengan informasi sebelumnya dan kita dapat menemukan jawaban atas pertanyaan ibu. Tanpa informasi sebelumnya berupa "ini ibu" kita tidak bisa berpikir.

Seperti itulah proses berpikir berlangsung. Setiap hari kita menjalani serangaian proses berpikir yang secara mendasar sudah diajarkan oleh ibu kita.

Dalam perkembanganya, aktivitas berpikir menjadi semakin rumit. Komponen berpikir yang secara sederhana berupa fakta, alat indera, akal, dan informasi sebelumnya mulai tergantikan. Tidak semua komponen yang tergantikan, hanya sebagian saja. Terkadang kita tidak menyadari akan hal itu. Padahal itu menyimpan suatu masalah.

Sebelum diuraikan apa permasalahannya, ada baiknnya kita telusuri mengapa hal itu dikatakan sebagai masalah. Di atas sudah disampaikan bahwa hasil akhir berpikir adalah pemikiran, yaitu status atas fakta. Sebagai manusia selain condong pada kebaikan, kita juga condong pada kebenaran. Benar berarti sesuai dengan fakta. Artinya, kita menganggap pemikiran yang kita hasilkan sesuai dengan fakta. Saat kita menganggap benar "itu ibu" berarti saat itu pula kita menganggap pemikiran "ini ibu" sesauai dengan fakta. Sehingga disimpulkan bahwa permasalahan seputar pemikiran berupa status benar tidaknya pemikiran tersebut.

Dewasa ini, dengan perkembangan teknologinya, aktivitas berpikir kita mampu menembus batas ruang dan waktu. Kita bisa memikirkan seperti apa itu gunung Fuji, sebagaimana kita memikirkan siapa yang layak kita sebut sebagai ibu saat kita kecil dahulu. Padahal keduanya berbeda, kita menemukan fakta berupa ibu secara langsung. Tidak halnya dengan gunung Fuji yang tidak pernah kita indera secara langsung. Namun, kita dapat memikirkan keduanya (hal ini diakui oleh masyarakat umum bahwa kita juga berpikir walaupun tidak mengindera fakta secara langsung). Mengapa? itu tidak lain karena masyarakat umum sudah mengakui bahwa fakta dapat diwakilkan dengan simbol, gambar, video, tanda dan sebagaianya. Yaitu, gunung Fuji tadi kita wakilkan dengan video atau foto gunung Fuji. Inilah salah satu hasil peradaban manusia sekarang, mengakui pengganti fakta sebagai fakta yang sesungguhnya.

Permasalahan tersebut berpangkal dari keberpihakan kita akan kebenaran, yaitu, kesesuaian pemikiran akhir dengan fakta yang sesungguhnya. Masalah timbul karena kita menyangsikan kebenaran suatu pemikiran. Untuk itu kita akan melakukan pengujian apakah pemikiran tersebut benar.

Semakin bertingkat penggantian fakta, semakin bertingkat pula pengujian kebenaran pemikiran terhadapnya. Misalnya untuk kasus memikirkan gunung Fuji tadi. Sebelum menguji apakah benar itu gunung Fuji, kita akan menguji apakah foto tersebut benar-benar menggantikan gunung Fuji yang merupakan fakta sesungguhnya. Demikianlah seputar permasalahan dalam berpikir. Dalam kehidupan nyata, sesungguhnya kita akan menemukan permasalahan yang lebih rumit daripada memikirkan foto gunung Fuji. Hingga terkadang kita terpeleset dalam kestidakbenaran berpikir. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'aala senantiasa memberikan kekuatan akal dan kejernihan pikir, sehingga kita akan terhindar dari ketidakbenaran dalam aktivitas berpikir.

Bersambung... :)